BerandaSastra & Karya KreatifSang Pendekar KonstitusiPANCA 06: ANATOMI RAHIM PENCUCIAN UANG

PANCA 06: ANATOMI RAHIM PENCUCIAN UANG

Published on

spot_img

Panca Saputra duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan, menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin. Di depannya, sebuah televisi tabung tua sedang menyiarkan berita sidang Tipikor Surabaya. Layar itu menampilkan sosok Fujika Senna Oktavia, istri siri dari politisi senior Kusnadi, yang sedang memberikan kesaksian tentang aliran dana belasan miliar rupiah. Panca memperhatikan dengan saksama, rahang tegasnya mengeras dan alis tebalnya bertaut.

Panca teringat materi pendidikan seks yang sering menekankan satu hal mendasar: “Kalau sudah dewasa, main aman, pakai pengaman.” Ironisnya, di republik ini, kelompok yang paling alergi dengan pengaman justru para pejabat tinggi. Begitu jabatan mengalami “ereksi” kekuasaan, akal sehat mereka mendadak loyo. Dana hibah mengeras, namun nurani melemas. Bagi Panca, fenomena istri simpanan di kalangan elit bukan sekadar urusan ranjang atau romansa terlarang, melainkan sebuah strategi bisnis bawah tanah yang sangat terukur.

“Lihat itu, Nca,” ujar seorang pelanggan warkop sambil menunjuk ke televisi. “Rumah belasan miliar dan aliran dana sepuluh miliar. Cintanya punya tarif yang fantastis, ya? Kita narik ojol sampai tipis ban pun tidak akan pernah mencium uang sebanyak itu.”

Panca hanya tersenyum tipis, meski matanya yang cerah memancarkan kemuakan yang dalam. Ia tahu bahwa dalam anatomi korupsi modern, istri simpanan ibarat rahim pencucian uang. Uang haram hasil sunat dana hibah atau proyek mercusuar seperti MBG dibuahi, dikandung dalam rekening pribadi sang istri muda, lalu lahir kembali sebagai aset properti, mobil mewah, dan perusahaan dengan nama yang estetik. Semuanya tampak sah secara administratif, meski secara moral busuk sampai ke akar. Ini seperti bayi tabung kejahatan: prosesnya canggih, hasilnya seolah “bersih”.

Di sisi lain kota, di sebuah apartemen mewah yang tersembunyi, Hendra Wijaya sedang memeriksa laporan keuangan melalui tabletnya. Di sampingnya, seorang wanita muda dengan pakaian bermerek sedang asyik memilah tas-tas baru yang baru saja tiba. Hendra menyesap cerutunya, menatap wanita itu bukan dengan pandangan cinta, melainkan sebagai seorang manajer yang sedang memeriksa unit penyimpanan asetnya.

“Semua rekening atas namamu sudah aman, kan?” tanya Hendra datar. Jam tangan mewahnya berkilat saat ia meletakkan tablet.

“Aman, Sayang. Semua sudah masuk ke ‘biaya operasional’ perusahaan baruku. Tidak akan ada yang curiga,” jawab wanita itu sambil tersenyum manis.

Hendra mengangguk puas. Bagi pria berkuasa seperti dirinya, istri simpanan adalah “kondom” keuangan; dipakai untuk menampung aliran dana haram agar tidak bocor ke radar aparat, lalu rencananya akan dibuang jika suatu saat terjadi “kebocoran” hukum. Negara yang dirangsang oleh ambisi proyek 335 triliun, namun rakyat yang kelelahan menanggung bebannya. Hendra merasa kebal hukum, mirip remaja yang baru menemukan Virtual Private Network (VPN) lalu merasa bebas berselancar di situs terlarang.

Tiba-tiba, Sila Saputra muncul di pangkalan ojol tempat Panca berada. Arsitek itu tampak lelah setelah seharian berurusan dengan birokrasi perizinan bangunan. Kacamata berbingkai merahnya sedikit berdebu. Ia duduk di samping Panca, membagikan keresahannya tentang sebuah proyek perumahan elit yang ia curigai sebagai aset simpanan pejabat.

“Mas, aku baru saja memeriksa data kepemilikan lahan di wilayah Jakarta Selatan,” bisik Sila. “Ada banyak aset mewah yang dimiliki oleh wanita-wanita muda tanpa rekam jejak pekerjaan yang jelas. Nama-nama mereka muncul sebagai pemilik perusahaan cangkang yang berafiliasi dengan vendor-vendor MBG milik Ayah dan relasi Pak Hendra Wijaya. Mereka menggunakan rahim finansial ini untuk menyembunyikan jejak Regulatory Capture mereka.”

Panca mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. “Mereka pikir mereka bisa menyembunyikan kebusukan di balik selimut apartemen mewah, Sila. Tapi tidak ada kejahatan yang sempurna. Kebocoran selalu terjadi saat saldo sudah terlalu gendut dan jejak digital terlalu banyak. Mereka lupa bahwa para istri simpanan ini adalah ‘seksretaris’ negara yang sesungguhnya. Mereka memegang kartu ATM, PIN, dan rahasia rekening sekaligus rahasia ranjang.”

Saat mereka berbicara, Giring-Giring Keadilan di saku Panca bergetar dengan frekuensi yang menyakitkan. Di layar televisi, berita beralih ke Hendra Wijaya yang sedang memberikan pernyataan pers tentang “stabilitas moral bangsa”. Panca merasakan aura Macan Putih bangkit di belakangnya, sebuah energi dingin yang membuat pelanggan warkop lain mendadak merasa menggigil tanpa alasan.

“Bayangkan jika suatu hari salah satu dari mereka mengalami Post Moral Syndrome (PMS) lalu melakukan spill semua percakapan dan bukti transfer,” gumam Panca. “Negara ini bisa guncang bukan karena kudeta militer, tapi karena tangkapan layar percakapan WhatsApp dan sertifikat tanah yang disembunyikan.”

Panca berdiri, tinggi badannya yang 180 sentimeter seolah menaungi seluruh warkop itu. Ia menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit tempat para elit menyembunyikan “anak haram” bernama skandal korupsi. Bagi Panca, korupsi bukan sekadar maling uang negara; korupsi adalah hubungan intim tanpa komitmen moral dan tanpa pengaman hukum.

“Sila, sampaikan kepada jaringan kita di Sereko,” perintah Panca tegas. “Lacak semua aset properti yang tidak wajar atas nama pihak ketiga. Kita akan tunjukkan kepada rakyat bahwa uang MBG yang seharusnya jadi makanan bergizi anak-anak, justru berakhir menjadi tas bermerek di lengan para simpanan. Marwah konstitusi tidak boleh dikalahkan oleh syahwat kekuasaan.”

Malam itu, Panca kembali membelah jalanan dengan motornya. Ia teringat pesan untuk para suami di puncak karier: perkawinan bukan rekening cadangan dan pasangan hidup bukan tempat parkir dosa. Uang haram itu licin; sekali tergelincir, seluruh keluarga ikut hancur. Di bawah lampu jalan yang temaram, sang pendekar konstitusi bersumpah bahwa bayi tabung kejahatan ini tidak akan pernah dibiarkan lahir dengan selamat.

#SangPendekarKonstitusi #Panca06 #AnatomiKorupsi #IstriSimpanan #Lawfare #HendraWijaya #SilaSaputra #Sereko #EtikaKonstitusi #PencucianUang #PancaSaputra

Latest articles

PANCA 07: MANDAT YANG TERGADAI

Gedung kura-kura di Senayan itu tampak megah, namun di dalamnya, lorong-lorong ruang komisi terasa...

PANCA 05: GENERASI PENYINTAS ETIKA

Panca Saputra duduk di bangku kayu panjang depan gudang sortir Serlog yang riuh. Di...

PANCA 04: PERANG REGULASI DI SENAYAN

Panca Saputra berlutut di aspal parkiran ruko yang retak, tangannya yang kotor oleh oli...

PANCA 03: KERISAUAN KURIR RAKYAT

Matahari Jakarta pukul satu siang terasa seperti menempel di kulit. Panca Saputra menyeka keringat...

More like this

PANCA 07: MANDAT YANG TERGADAI

Gedung kura-kura di Senayan itu tampak megah, namun di dalamnya, lorong-lorong ruang komisi terasa...

PANCA 05: GENERASI PENYINTAS ETIKA

Panca Saputra duduk di bangku kayu panjang depan gudang sortir Serlog yang riuh. Di...

PANCA 04: PERANG REGULASI DI SENAYAN

Panca Saputra berlutut di aspal parkiran ruko yang retak, tangannya yang kotor oleh oli...