BerandaTeknologiReuni Rendang

Reuni Rendang

Published on

Minggu siang itu, langkah saya tergerak oleh sebuah pesan singkat di WhatsApp dari Teteh kesayangan kami semua, Trie Utami. Sebenarnya, undangan resmi dari Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia sudah sampai ke meja saya beberapa hari sebelumnya. Surat bernomor S-11/UN2.R1.MAC/SDM.00.00/2026 yang ditandatangani oleh Dr. Ngatawi Al Zastrouw itu mengajak saya, E. T. Hadi Saputra, untuk hadir dalam pembukaan pameran etnofotografi karya Edy Utama di Makara Art Center (MAC) UI.

Seperti biasa, temanya dalam: Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat. Sebuah rekaman visual tentang pergulatan adat dan agama yang dipertautkan oleh konsensus Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Meski sempat tertahan hujan yang tiba-tiba turun di rumah, saya tetap berangkat. Beruntung ada jalur tol baru BSD-Depok yang membuat perjalanan terasa lebih lapang, meski tarifnya memang cukup terasa di kantong.

Aroma rendang dari perhelatan “Merendang untuk Sumatera” langsung menyapa saat saya menginjakkan kaki di lobby Makara Art Center. Di tengah keramaian itu, saya bertemu kembali dengan Octavianus Masheka. Wajah si Bung ini seakan tak tersentuh waktu meski sudah dua dekade lebih kami tak bersua. Mungkin kehidupan sebagai sutradara memang memberinya kemewahan untuk memiliki “ruang waktu” sendiri. Kami menghabiskan waktu cukup lama di selasar, sebuah momen temu kangen yang hangat sambil mengenang beberapa sahabat lama. Ada doa terselip untuk mereka yang telah mendahului kita—Asbon Budinan Haza, Leon Agusta, hingga Dorce. Kami juga sempat mendoakan Paman saya, Rusli Marzuki Saria, yang baru saja merayakan ulang tahun ke-90 pada 26 Februari lalu. Setelah obrolan yang terasa padat itu, saya pun melangkah masuk.

Di dalam ruangan, Menteri Kebudayaan, Bpk. Dr. H. Fadli Zon, M.Sc., sedang memberikan sambutan pembukaan. Gaya bicaranya tetap kalem, bukan tipikal singa podium, namun setiap untaian katanya selalu terstruktur rapi sebagaimana biasanya. Melihat sosok kawan lama sejak era aktivis ini kini berdiri dengan tanggung jawab sebagai menteri kebudayaan, ingatan saya seketika melayang ke meja-meja diskusi masa muda kami. Sambil berbincang santai dengan rekan-rekan lain di sela acara, saya memilih untuk tidak menyela kesibukannya seusai sambutan. Toh, bagi kawan lama, sapaan lewat WhatsApp seringkali terasa lebih hangat dan sederhana.

Saat hendak melihat-lihat karya foto Edy Utama, saya baru teringat betapa dekatnya hubungan kami. Almarhum bapak mertua beliau adalah guru saya sekaligus sepupu jauh Ibu saya. Istri beliau pun senior saya di SMA, sementara Mamak Rumah-nya, Dt Rajo Endah, adalah kawan satu sekolah. Dunia ini memang terasa sangat kecil di Makara UI hari itu.

Di tengah pengamatan itu, saya bertemu Prof. Andrinof Chaniago. Sosok intelektual yang selalu hangat meskipun kami pernah terlibat twitwar seru tentang Jembatan Selat Sunda (JSS) di masa lalu. Diskusi 10 menit kami hari itu berlanjut pada rencana obrolan mengenai progress Serba University dan konsep Kampus Merdeka.

Tak jauh dari sana, di bawah pohon yang rindang sebelum menaiki tangga utama, saya berpapasan dengan dua senior idola: Ridwan Manantik dan Dik Doank. Melihat mereka berdua berdiri berdampingan, seperti melihat penjaga gawang kreativitas yang tak pernah luntur semangatnya. Bang Ridwan Manantik, sang pelukis lukisan berjiwa yang selalu teduh dengan ketenangannya yang berwibawa, bersanding dengan Kang Dik Doank, sosok ustad yang multitalenta dengan energi artistik yang meledak-ledak namun tetap rendah hati. Lebar senyum mereka seolah memberikan energi tambahan bagi siapa pun yang menyapa. Sebagai junior yang mengagumi kiprah mereka, saya menyalami hormat keduanya. Tak perlu banyak basa-basi, karena frekuensi pertemuan kami yang cukup sering membuat jalinan batin itu terasa sangat nyata meski hanya lewat obrolan singkat di bawah pohon.

Memasuki puncak acara, saya duduk di barisan hadirin untuk menyimak diskusi Teh Trie Utami dan Santhi Serad. Di samping saya, Ayah Rully—suami Teh Iie—sudah bersiap dengan kamera Canon + L28-150mm miliknya, siap mengabadikan setiap momen. Gastronomi dibedah dengan apik sebagai medium diplomasi budaya, bahkan Om William Wongso sempat berdiri memberikan tanggapan yang mencerahkan. Sebagai pengamat berlatar hukum dan komunikasi, saya melihat Teh Iie bukan sekadar musisi, tapi benar-benar sebagai penyanyi budaya yang membedah kedaulatan identitas melalui seni. “Kalau tak ada makanan, kami pasti mati,” begitu candaan kami yang pecah dalam tawa.

Acara berlangsung hingga azan Maghrib. Kami kemudian beranjak ke ruang makan dalam format yang lebih lengkap dengan hadirnya Mas Gunawan Wicaksono beserta istri, juga Inayah Wahid, sosok juri stand-up comedy masa depan favorit kami yang selalu segar dengan celotehnya. Saat berbuka, saya duduk di samping dua anak muda luar biasa yang seumuran dengan anak-anak kami. Ternyata mereka juga alumni SMA yang sama; Deni Ramadhani yang kini di DPD RI, dan Nando di DPR RI. Di sana pula saya kembali bertemu kawan SMA lainnya, Dt Novil dan Dt Rudy.

Namun, obrolan justru semakin “panas” dan mendalam setelah piring-piring dibersihkan. Diskusi berlanjut cukup lama, berbatang-batang rokok dan bergelas-gelas kopi menemani hingga malam semakin larut. Di sudut ruang makan itu, di seberang danau UI, kami seolah bertransformasi menjadi semacam “presidium illuminati konstitusional”. Ada frekuensi yang sama bahwa tahun 2026 ini adalah momentum krusial yang tak boleh dilewatkan untuk menyelamatkan bangsa. Cukup sudah penderitaan rakyat yang dirasa terlalu panjang; kini saatnya gas poll di setiap lini pengabdian. Tentu saja, apa yang kami bedah malam itu harus tetap menjadi rahasia—terlalu bahaya jika dibocorkan ke publik sekarang.

Sebelum benar-benar berpamitan untuk menemani suaminya yang juga ada acara bukber, Fryda Lucyana—sang Irjen Kebudayaan sekaligus kawan sejak SMA—menghampiri saya. Ia berucap riang, “Thank you for your kind words,” merujuk pada narasi 5.400 huruf yang saya tulis tentang ulang tahun kami Desember lalu. Saya hanya tersenyum lebar, menyadari bahwa ini pasti “ulah” Teh Iie yang telah memforward tulisan itu kepadanya.

Makara UI hari itu memberikan pelajaran berharga: bahwa seragam profesi dan jabatan boleh berganti, mau jaket hijau, biru, atau kuning tetap saja kami bertemu kembali di kampus UI. Namun, akar masa kecil, persahabatan sekolah, dan komitmen untuk menyelamatkan masa depan bangsa tetap menjadi pengikat yang paling tulus. Tahun 2026 harus menjadi lembaran baru bagi kita semua.

Latest articles

Eskalasi Timur Tengah: Operasi Regional dan Kabut Suksesi Kepemimpinan di Teheran

TEHERAN, 2 Maret 2026 – Kawasan Timur Tengah kini berada dalam fase ketidakpastian tertinggi...

Sirkus Pembiaran: Saat Nasi di Piringmu Mulai Dikencingi

JAKARTA – Panggung sirkus global kita hari ini sedang mementaskan babak paling memuakkan tentang...

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

More like this

Eskalasi Timur Tengah: Operasi Regional dan Kabut Suksesi Kepemimpinan di Teheran

TEHERAN, 2 Maret 2026 – Kawasan Timur Tengah kini berada dalam fase ketidakpastian tertinggi...

Sirkus Pembiaran: Saat Nasi di Piringmu Mulai Dikencingi

JAKARTA – Panggung sirkus global kita hari ini sedang mementaskan babak paling memuakkan tentang...

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...