More
    BerandaEditorialKenapa Pak Modi 'Diisukan' Panik?

    Kenapa Pak Modi ‘Diisukan’ Panik?

    Published on

    spot_img

    Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian. Mari kita awali hari dengan secangkir kopi dan sedikit diskusi santai mengenai pasar.

    Saya sering tersenyum melihat judul berita yang beredar kencang di media sosial. Terutama yang viral itu, yang menyoroti isu “Modi Panik! 17 Miliar Dolar Kabur dari India!” Judulnya luar biasa dramatis, ya. Seperti trailer film yang menjanjikan ketegangan hebat.

    Sebagai seorang praktisi hukum yang berkutat dengan regulasi dan fakta, saya harus katakan: narasi itu setengah benar. Dan yang namanya setengah benar, sisanya itu seringkali adalah bumbu penyedap alias drama. Mari kita bedah pelan-pelan.

    💔 Kisah Cinta Segitiga Dolar, Rupee, dan Laba

    Begini, Bapak/Ibu. Uang yang ditarik, si 17 Miliar Dolar AS itu, bukanlah dana yang dipakai untuk membangun jembatan permanen. Itu adalah uang FPI (Foreign Portfolio Investor). Sederhananya, ini uang investor yang fokus bermain saham dan obligasi.

    Anggap saja uang ini seperti dana liburan singkat. Begitu ada destinasi lain yang lebih menggiurkan, dia akan pindah, tidak pakai basa-basi.

    • Faktanya: Memang benar, sekitar $17 Miliar Dolar ini ditarik bersih dari pasar saham India sepanjang tahun 2025. Angkanya memang besar, menunjukkan tekanan jual yang serius.
    • Alasannya Kompleks: Kenapa uang ini kabur? Pertama, pasar saham India dinilai sudah kemahalan. Setelah untung besar, wajar investor global bilang, “Cukup, mari kita kunci keuntungan ini.” Mereka profit taking.
    • Kedua, The Fed—Bank Sentral Amerika—masih memainkan perannya. Kenaikan suku bunga di Amerika membuat aset di sana jadi sangat menarik. Uang itu berpikir, “Kenapa repot-repot main saham di Asia yang berisiko, kalau di Amerika bunganya besar dan dijamin aman?” Itu hukum pasar; modal bergerak mencari keuntungan terbesar dengan risiko terkecil.

    🎭 “Panik” atau “Taktis”?

    Nah, di sini letak sindiran halusnya. Judul berita berteriak “Modi Panik!”

    Saya rasa, PM Modi dan para menteri di New Delhi tidak lantas panik sampai lupa cara minum teh. Mereka mungkin hanya menghela napas, sebab mereka tahu ini adalah siklus global.

    Arus modal keluar tentu membuat Rupee melemah dan pasar saham sedikit terguncang. Namun, Anda perlu melihat dua hal besar:

    1. Fondasi India Kuat: Ekonomi India tetap menjadi salah satu yang tercepat di dunia. Pertumbuhan PDB-nya konsisten bagus.
    2. Uang “Setia” Masuk: Yang lebih penting, FDI (Investasi Langsung Asing)—uang yang dipakai membangun industri dan lapangan kerja—itu tetap stabil dan bahkan cenderung masuk. FDI itu seperti suami yang setia, beda dengan FPI yang pacar jangka pendek.

    Pemerintah India justru sibuk mengeluarkan paket relaksasi aturan untuk menarik dana kembali. Ini namanya respons taktis dan strategis, bukan kepanikan.

    Refleksi Pribadi: Dalam dunia hukum, kita diajarkan untuk selalu membedakan antara fakta dan opini. Dana $17 Miliar keluar adalah fakta. Klaim ‘panik’ adalah opini yang dilebih-lebihkan. Kita harus fokus pada dasar hukum dan ekonomi, bukan pada teriakan di media sosial.

    🎯 Penutup Keras: Fokus pada Akar Masalah

    Jadi, Bapak/Ibu sekalian, marilah kita bersikap kritis. Faktanya adalah arus modal portofolio yang besar memang keluar dari India. Konteksnya adalah dinamika global, suku bunga Amerika, dan aksi ambil untung.

    India sedang menghadapi tantangan, bukan kehancuran. Tugas kita adalah melihat jauh melampaui judul sensasional, dan fokus pada strategi India untuk merebut kembali modal itu.

    Ingat, di pasar global, yang paling sering panik itu adalah investor awam yang mudah terpengaruh hoax judul viral!

    Terima kasih atas waktu Anda. Sampai jumpa di opini berikutnya! Jangan lupa share ya.


    #EkonomiIndia #InvestasiAsing #Modi #FPIOutflow #Dolar #AnalisisEkonomi #ethadisaputra

    Latest articles

    RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

    Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat Hukum Adat Penulis: E. T. Hadi...

    Mengawal Arah Kebijakan Fiskal 2026: Strategi Ekstensifikasi di Tengah Target Ambisius

    JAKARTA – Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi arsitektur ekonomi Indonesia. Di bawah kepemimpinan...

    Dilema Dompet Tipis dan Ilusi Pendapatan

    Membeli kemakmuran dengan cara kelaparan adalah ide jenius bagi mereka yang gagal logika, namun...

    Matinya Simfoni Di Tanah Kayu Dan Tragedi Efisiensi Global

    Ketika melodi piano tidak lagi mampu menutupi suara mesin yang berhenti dan tangis ribuan...

    More like this

    RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

    Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat Hukum Adat Penulis: E. T. Hadi...

    Mengawal Arah Kebijakan Fiskal 2026: Strategi Ekstensifikasi di Tengah Target Ambisius

    JAKARTA – Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi arsitektur ekonomi Indonesia. Di bawah kepemimpinan...

    Dilema Dompet Tipis dan Ilusi Pendapatan

    Membeli kemakmuran dengan cara kelaparan adalah ide jenius bagi mereka yang gagal logika, namun...