BerandaBeritaANCAMAN PERADABAN: PEMBONGKARAN JEMBATAN KERETA API LEMBAH ANAI

ANCAMAN PERADABAN: PEMBONGKARAN JEMBATAN KERETA API LEMBAH ANAI

Date:

Related stories

RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat...

Mengawal Arah Kebijakan Fiskal 2026: Strategi Ekstensifikasi di Tengah Target Ambisius

JAKARTA – Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi arsitektur...

Dilema Dompet Tipis dan Ilusi Pendapatan

Membeli kemakmuran dengan cara kelaparan adalah ide jenius bagi...

Matinya Simfoni Di Tanah Kayu Dan Tragedi Efisiensi Global

Ketika melodi piano tidak lagi mampu menutupi suara mesin...

Dugaan Korupsi Kredit BNI Rp 34 Miliar, Kejari Padang Segel Rumah dan Kantor Anggota DPRD Sumbar

Operasi yang berlangsung pada Senin (17/11/2025) tersebut menyasar dua...
spot_imgspot_img

JAKARTA/ALAHAN PANJANG — Sebuah mendung tebal tidak hanya sedang menggelayuti langit fisik Lembah Anai pascabencana banjir bandang yang melanda Sumatera Barat. Mendung yang lebih pekat kini membayangi eksistensi sejarah dan identitas bangsa. Rencana pemerintah untuk membongkar kaki Jembatan Kembar di Lembah Anai sebagai langkah mitigasi banjir telah memicu gelombang protes dan keprihatinan mendalam dari para aktivis pelestari sejarah serta pengamat hukum. Infrastruktur peninggalan abad ke-19 ini bukan sekadar tumpukan beton dan baja, melainkan komponen vital dari Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) yang telah diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.

Dossier UNESCO: Integritas yang Tidak Bisa Ditawar

Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Nanang Asfarinal, dalam pernyataan resminya di Jakarta, memperingatkan dengan tegas bahwa jembatan tersebut secara hukum internasional tercatat dalam dossier World Heritage UNESCO. Sebagai bagian dari OCMHS, jembatan ini merupakan komponen dari sebuah ansambel teknologi pertambangan terintegrasi yang mencerminkan kecemerlangan rekayasa pada masanya.

Nanang menjelaskan secara mendetail bahwa OCMHS dibangun atas tiga pilar utama yang saling mengunci. Pertama, Kota Perusahaan Tambang di Sawahlunto. Komponen ini meliputi tata letak kota pertambangan yang sangat rapi, bangunan perumahan bagi pekerja dan staf, fasilitas sosial seperti sekolah dan lapangan, hingga struktur yang menggambarkan kehidupan manajemen kolonial serta kaum pekerja tambang (ketirangan).

Kedua, Struktur Rekayasa dan Fasilitas Kereta Api. Ini adalah jaringan rel kereta api pegunungan sepanjang 155 km yang menghubungkan pedalaman tambang dengan pesisir pantai. Jaringan ini mencakup stasiun-stasiun ikonik dan infrastruktur pendukung yang dirancang untuk efisiensi transportasi batubara di medan yang sangat berat. “Di dalam komponen kedua inilah jembatan di Lembah Anai berada. Ia adalah struktur rekayasa kunci yang memungkinkan jalur besi ini menembus bukit barisan,” ujar Nanang.

Ketiga, Fasilitas Penyimpanan Batu Bara di Pelabuhan Emmahaven (kini Pelabuhan Teluk Bayur di Padang). Fasilitas ini menjadi titik akhir distribusi dan pintu gerbang ekspor batu bara ke pasar global di awal abad ke-20. Nanang menekankan bahwa menghapus atau merusak satu bagian dari sistem ini akan merusak nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value) yang diakui oleh UNESCO.


MPKAS: Gerakan dari Dunia Digital untuk Marwah Peradaban

Dari Alahan Panjang, Sekretaris Jenderal Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat (MPKAS), Nofrins Napilus, menyuarakan duka yang mendalam atas rencana tersebut. Nofrins mengingatkan bahwa perjuangan menjaga eksistensi perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki akar sejarah yang kuat dalam kesadaran kolektif masyarakat Minang, baik di ranah maupun di rantau.

MPKAS sendiri bukanlah organisasi yang lahir secara instan. Ini merupakan kerja kolaboratif yang diinisiasi oleh para intelektual dan tokoh peduli seperti Yuhefizar, ET Hadi Saputra, Kurnia Chalik, Sri Setyawati, dan belasan aktivis lainnya. Gerakan ini lahir dari rahim R@ntauNet, sebuah komunitas Minang online pertama dan legendaris yang sudah eksis sejak awal tahun 90-an. Melalui jejaring digital inilah, kesadaran akan pentingnya menjaga warisan sejarah kereta api di Sumatera Barat disemai hingga akhirnya mewujud dalam aksi-aksi nyata di lapangan.

“Kami di MPKAS, bersama para pendiri dan komunitas R@ntauNet, telah puluhan tahun berjuang agar kereta api kita tidak mati suri. Kabar rencana pembongkaran ini adalah lonceng kematian bagi narasi besar peradaban kita,” ungkap Nofrins. Ia mengibaratkan jembatan tersebut sebagai salah satu tiang utama dalam struktur “Rumah Gadang” sejarah Minangkabau. Mencabut satu tiangnya berarti memulai keruntuhan seluruh marwah peradaban yang sudah dibangun berabad-abad.


Monumen Darah, Keringat, dan Inovasi

Sejarah mencatat bahwa Jembatan Kereta Api Anai dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 dan mulai beroperasi sekitar tahun 1892. Pembangunannya di medan yang sangat ekstrem—di antara tebing curam dan derasnya air terjun—dilakukan tanpa bantuan alat berat modern seperti yang kita kenal sekarang.

Jalur ini menjadi saksi bisu betapa Sumatera Barat pernah menjadi pusat perhatian dunia karena kepemilikan teknologi transportasi tercanggih di masanya. Nofrins menekankan agar pemerintah tidak hanya memandang jembatan ini dari sudut pandang teknis dan praktis semata. “Ada darah, nyawa, dan identitas para pendahulu kita di sana. Ribuan orang dipaksa bekerja demi sebuah ambisi kemajuan kolonial. Jembatan ini adalah monumen bisu dari perjuangan panjang tersebut,” tambahnya.

Kedekatan emosional masyarakat Minang dengan kereta api juga terdokumentasi dalam literatur klasik. Buya Hamka, dalam berbagai novelnya, sering menggambarkan kereta api sebagai bagian tak terpisahkan dari mobilitas sosial masyarakat. Kereta api, dengan lokomotif uap legendarisnya yang dikenal sebagai “Mak Itam”, adalah simbol harapan bagi mereka yang pergi merantau untuk mencari ilmu atau berdagang.

Bahkan, pengaruh dunia perkeretaapian ini masuk ke dalam ranah teologis dan filosofis. Di surau-surau, para ulama sering memberikan nasihat menggunakan metafora rel: “Berjalanlah engkau sesuai rel yang sudah ditentukan. Karena rel itu tidak pernah berbelok secara tiba-tiba.” Nasihat ini menunjukkan betapa dalamnya dunia kereta api meresap ke dalam budaya Minangkabau, melampaui sekadar fungsi transportasi jalan raya yang sudah ada lebih dulu.


Kritik atas Solusi Jangka Pendek

Nofrins dan MPKAS memahami bahwa jembatan ini berada di area yang merupakan main artery atau urat nadi perekonomian Sumatera Barat. Namun, ia menilai logika mengorbankan situs bersejarah demi solusi banjir adalah pola pikir yang sangat berbahaya. Menurutnya, bangsa yang besar tidak seharusnya memilih jalan pintas yang menghancurkan rekam jejak sejarahnya sendiri.

Pada tahun 2007, MPKAS melakukan upaya nyata dengan mencari sponsor untuk melakukan painting atau pengecatan ulang jembatan (dan beberapa gerbong) dengan warna oranye yang mencolok. Tujuannya adalah agar jembatan tersebut menjadi eye-catching bagi siapa saja yang melintas di Lembah Anai. Mereka ingin setiap orang menoleh dan menyadari bahwa di sana berdiri sebuah Heritage yang sangat agung. Kini, setelah warnanya dikembalikan menjadi perak oleh PT KAI, nilai keagungannya tidak boleh luntur oleh kebijakan pembongkaran.

“Kita butuh solusi yang lebih cerdas dan inovatif. Teknologi konstruksi masa kini harusnya mampu memitigasi banjir tanpa harus meratakan situs UNESCO. Membongkar jembatan ini sama saja dengan memutus mata rantai sejarah peradaban Minangkabau yang mendunia,” tegas Nofrins.


Masa Depan Pariwisata dan Identitas

Jembatan-jembatan kereta api di Lembah Anai bukan sekadar infrastruktur, melainkan ikon pariwisata yang tak ternilai harganya. Selama belasan tahun, citra lokomotif “Mak Itam” yang membelah tropical rainforest telah menjadi materi promosi utama pariwisata Sumatera Barat di tingkat internasional. Wisatawan datang bukan hanya untuk sampai ke tujuan, tetapi untuk merasakan sensasi perjalanan melalui jalur yang disebut sebagai salah satu jalur kereta api terindah sekaligus tersulit di dunia.

Saat ini, meskipun jalur komersial reguler baru aktif untuk rute Padang–Pariaman dan angkutan semen Indarung–Teluk Bayur, potensi revitalisasi jalur Lembah Anai menjadi kereta api pariwisata tetap menjadi harapan besar. Pengalaman melintasi keindahan alam Sumatera Barat dari dalam gerbong kereta api adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa digantikan oleh moda transportasi apa pun.

Sebagai penutup, Nofrins mengeluarkan seruan kepada para pemangku kepentingan: “Jangan bongkar sejarah kami. Jangan cabut tiang harga diri kami. Kami paham keuangan negara sedang tidak baik-baik saja, namun jangan biarkan generasi mendatang hanya mengenal kehebatan Ranah Minang melalui buku teks yang kaku dan kusam. Biarkan mereka tetap bisa melihat dan menyentuh bukti nyata bahwa kita pernah menjadi bangsa yang besar.”

Jika Jembatan Kembar dan Jembatan Tinggi ini akhirnya rata dengan tanah, maka saat itulah Sumatera Barat akan benar-benar kehilangan sebagian besar jiwanya. Perjuangan MPKAS dan para pendiri R@ntauNet kini menjadi ujian bagi komitmen bangsa ini dalam menghargai warisan dunianya sendiri.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini