BerandaSastra & Karya KreatifSang Pendekar KonstitusiPANCA 01: PERJAMUAN PARA PENGKHIANAT

PANCA 01: PERJAMUAN PARA PENGKHIANAT

Published on

spot_img

Lantai marmer aula hotel itu berkilau hingga Panca Saputra bisa melihat bayangan wajahnya. Berdiri tegak setinggi 180 sentimeter, Panca tampak mencolok di sudut ruangan. Jaket abu-abu Serlog miliknya sedikit berdebu di bagian bahu karena baru saja membelah kemacetan. Logo SL hijau di dada kiri berkilau redup di bawah lampu kristal. Meski hanya kurir, rahang tegas, alis tebal, dan sorot mata cerahnya memancarkan wibawa yang kuat.

Di tengah aula, gelak tawa bersahutan di balik asap cerutu. Perhatian semua orang tertuju pada layar digital raksasa yang menampilkan angka merah: Rp335.000.000.000.000,-. Di bawah angka itu, terpampang slogan: “Makan Bergizi Gratis – Mandat Baru Menuju 2045”. Perjamuan itu merupakan perayaan atas kesepakatan besar yang baru saja disahkan.

“Panca! Sini kamu!” seru Suro Agul-Agul dari meja utama. “Jangan berdiri saja di sana. Ambil piring kotor ini, lalu serahkan paket kiriman itu. Ingat, kamu tinggal di rumahku karena belas kasihanku, tunjukkan sedikit kegunaanmu sebagai menantu.”

Panca melangkah stabil, mengabaikan tatapan merendahkan para tamu. Di meja utama, duduk pria asing berjas abu-abu dengan pin perak berbentuk merpati—simbol Board of Peace (BOP). Pria itu, Benjamin, sedang menyesap anggur dengan senyum puas.

“Ini kiriman Anda, Pak,” ucap Panca rendah sambil meletakkan kotak paket dengan presisi di depan Benjamin.

Suro Agul-Agul tertawa sambil menepuk bahu Benjamin. “Tuan Benjamin, ini menantu saya. Dia hanya kurir lapangan di Serlog. Tapi lihatlah, berkat program 335 triliun kami, orang kecil seperti dia punya harapan untuk tidak mati kelaparan.”

Benjamin tersenyum dingin dan menatap Panca. “Bagus sekali, Tuan Suro. Kami dari Board of Peace bersedia menyuntikkan dana untuk menutupi defisit anggaran 335 triliun ini melalui skema infrastruktur digital. Namun, seperti diskusi di Baleg DPR tadi, Indonesia harus bersikap ‘realistis’. Kami butuh dukungan diplomatik untuk inisiatif perdamaian kami di Timur Tengah. Normalisasi hubungan adalah kunci.”

Panca terhenti. Ia tahu makna di balik kata ‘realistis’ itu. Itu adalah sandi halus untuk membujuk Indonesia mengkhianati amanat konstitusi terkait kemerdekaan Palestina demi menambal lubang anggaran yang bocor akibat kebijakan mercusuar.

“Maaf, Pak,” interupsi Panca dengan nada tenang. “Saya mendengar kabar dari rekan kurir di pasar pagi ini. Harga telur dan beras naik tajam karena vendor tunggal memborong stok demi program MBG. Di saat yang sama, guru honorer menangis karena gaji dipangkas untuk penyesuaian anggaran. Apakah pengorbanan rakyat kecil ini yang Bapak sebut sebagai solusi?”

Aula yang tadinya bising mendadak senyap. Suro Agul-Agul menggebrak meja hingga peralatan makan berdenting. “Kurir lancang! Siapa yang memberimu hak bicara soal kebijakan negara?”

Sila Saputra masuk ke aula. Arsitek lulusan Kampus Kuning itu tampak anggun dengan kacamata berbingkai merah yang mencerminkan kecerdasannya. Meski bertubuh mungil dengan tinggi 160 sentimeter, kehadirannya membawa aura tenang. Ia berdiri di samping Panca dan meletakkan tangan di lengan suaminya.

“Ayah,” ujar Sila dengan suara jernih. “Apa yang dikatakan Mas Panca benar. Program 335 triliun ini memakan hak rakyat sendiri. Anggaran puskesmas dan riset dikorbankan. Sekarang, Ayah mau menjual prinsip politik luar negeri kepada Board of Peace hanya untuk menutupi kesalahan perencanaan?”

“Diam kamu, Sila! Semua ini sah secara hukum! DPR sudah mengetok palu legislasi pendanaannya!” bentak Suro dengan wajah memerah.

Panca merasakan getaran di saku celananya. Giring-Giring Keadilan mulai bereaksi. Suara denting halusnya hanya didengar oleh nurani yang masih hidup, namun bagi mereka yang dikuasai keserakahan, getaran itu terasa seperti tusukan di ulu hati. Bayangan samar harimau putih besar muncul di belakang Panca, memenuhi ruangan dengan tekanan yang menyesakkan.

“Tuan-tuan,” suara Panca kini bergema kuat. “Hukum tanpa etika adalah jasad tanpa nyawa. Sebagaimana ditulis oleh Saputra, E. T. Hadi, menggunakan prosedur legislasi untuk melegitimasi penindasan adalah pengkhianatan terhadap Volksgeist atau jiwa bangsa.”

Benjamin tampak pucat dan merasa oksigen di dalam aula menipis. “Siapa sebenarnya kurir ini?”

Panca menatap tajam Benjamin. “Anda tidak bisa membeli nurani bangsa ini dengan 335 triliun. Makan gratis itu mulia jika sumbernya bersih, tapi menjadi haram jika dilakukan dengan merampas hak kesehatan, pendidikan, dan harga diri bangsa di mata dunia.”

Panca maju satu langkah, dan seketika gelas kristal di meja utama retak serentak. “Anda sedang mempraktikkan Autocratic Legalism—menggunakan undang-undang sebagai alat pemukul rakyat. Ingatlah, kedaulatan ada di tangan rakyat, bukan di tangan pemegang modal asing.”

Suro Agul-Agul mencoba bangkit, namun ia merasa ada tekanan tak kasat mata pada bahunya. Panca meraih tangan Sila dengan lembut. “Ayo kita pergi, Sila. Tempat ini terlalu bau aroma pengkhianatan.”

Saat mereka melangkah keluar, seluruh lampu hotel padam. Di tengah kegelapan, terdengar satu suara denting lonceng perak yang menggema jauh ke dalam batin setiap orang. Malam itu, Panca Saputra telah mengirimkan pernyataan perang demi marwah konstitusi.

#SangPendekarKonstitusi #PancaSaputra #EtikaKonstitusi #Serlog #BoardOfPeace #IndonesiaPalestina #MakanBergiziGratis #SilaSaputra #Sereko #SERBA #PerjamuanParaPengkhianat #KedaulatanNegara

Latest articles

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti...

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti...

RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat Hukum Adat Penulis: E. T. Hadi...

Mengawal Arah Kebijakan Fiskal 2026: Strategi Ekstensifikasi di Tengah Target Ambisius

JAKARTA – Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi arsitektur ekonomi Indonesia. Di bawah kepemimpinan...

More like this

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti...

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti...

RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat Hukum Adat Penulis: E. T. Hadi...