BerandaSastra & Karya KreatifSang Pendekar KonstitusiPANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Published on

spot_img

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti di depan sebuah SD Negeri di pinggiran Jakarta. Jaket abu-abunya yang bersahaja dengan logo SL hijau tampak mencolok di tengah kerumunan orang tua murid yang sedang protes.

Panca turun, tinggi badannya yang 180 cm membuatnya mudah melihat apa yang terjadi di balik gerbang sekolah. Di sana, beberapa petugas dengan seragam bertuliskan “Vendor MBG” sedang menurunkan kotak-kotak makanan. Bau anyir telur busuk tercium sampai ke jalan.

“Ini yang kalian sebut makanan bergizi?” teriak seorang ibu sambil menunjukkan kotak berisi nasi keras dan sepotong telur yang sudah menghitam. “Anak saya diare setelah makan ini kemarin!”

Panca mendekat, alis tebalnya bertaut. Ia melihat salah satu petugas vendor justru membentak ibu tersebut. “Sudah syukur dapat gratis! Ini sudah sesuai prosedur dan kontrak negara. Kalau tidak mau, jangan makan!”

Di sudut lain, Panca melihat sepupunya, seorang guru honorer muda, sedang menenangkan murid-muridnya dengan mata berkaca-kata. Panca menghampirinya. “Mas Panca,” bisik guru itu lemas. “Kami tidak berdaya. Dana operasional sekolah dipotong hampir empat puluh persen untuk mendukung pengadaan makanan ini. Sekarang kami bahkan tidak punya anggaran untuk memperbaiki atap kelas yang bocor.”

Panca mengepalkan tangan. Inilah “efek liar” dari anggaran 335 triliun yang dipaksakan. Uang rakyat mengalir deras ke kantong vendor tunggal yang berafiliasi dengan jaringan Suro Agul-Agul, sementara sektor dasar dikorbankan.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan sekolah. Keluar dari sana Benjamin, utusan Board of Peace, didampingi oleh Sahroni yang kembali menduduki kursi pimpinan parlemen.

“Lihat ini, Tuan Benjamin,” ujar Sahroni sambil melirik jam tangan mewahnya. “Inilah realitas ekonomi baru Indonesia. Perputaran uang 335 triliun dalam satu ekosistem. Semua terkendali secara politik di DPR.”

Benjamin mengangguk puas. “Jika kalian bisa menjaga stabilitas ini, investasi digital dari BOP akan segera cair. Kami hanya butuh kepastian bahwa parlemen Anda tetap pragmatis soal dukungan internasional kami.”

Panca merasakan getaran hebat dari saku celananya. Giring-Giring Keadilan bereaksi keras terhadap aroma pengkhianatan di depannya. Bersamaan dengan itu, aura Macan Putih mulai membayangi Panca, membuat mata cerahnya berbinar dengan kilatan yang mengintimidasi.

Panca melangkah maju membelah kerumunan. “Tuan Sahroni,” suara Panca rendah namun menggelegar. “Anda melihat realitas, tapi saya melihat penindasan. Anda menyebut ini stabilitas di Senayan, tapi bagi rakyat di sini, ini adalah perampokan berkedok undang-undang.”

Sila Saputra muncul dari arah gedung sekolah dengan gulungan cetak biru di tangannya. Arsitek lulusan Kampus Kuning itu mengenakan kacamata berbingkai merah yang mencolok. Ia baru saja memeriksa bangunan “Dapur Sentral” proyek ayahnya.

“Mas Panca, ini parah,” ujar Sila tegas. “Bangunan dapur ini menggunakan material sisa. Mereka memangkas spesifikasi keamanan hanya untuk memperbesar keuntungan. Ini bukan sekadar pelanggaran kontrak, ini adalah kejahatan.”

Sila menoleh ke arah Sahroni. “Pimpinan, apakah ini yang Anda sebut legalitas? Kebijakan yang lahir dari manipulasi prosedur atau Autocratic Legalism hanya akan melahirkan kehancuran fisik dan moral bangsa.”

Sahroni tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya melihat sorot mata Panca. “Anak muda, politik itu soal hasil dan realitas lapangan, bukan soal teori etika. Proyek ini sah secara hukum.”

“Hukum tanpa etika adalah jasad tanpa nyawa,” balas Panca dingin. Ia mengeluarkan ponselnya. “Aktifkan unit Sereko Distribusi. Masuk ke pasar sekarang. Pecahkan monopoli mereka.”

Hanya dalam hitungan menit, lima truk besar dengan logo S perak—simbol dari Sereko—masuk ke area sekolah. Mereka menurunkan kotak-kotak makanan segar berkualitas tinggi dengan harga setengah dari harga vendor resmi.

“Mulai hari ini,” Panca menatap Sahroni dan Benjamin bergantian. “Pasar tidak akan lagi didikte oleh keserakahan kalian. Sereko akan memastikan setiap anak mendapat haknya. Macan ini tidak akan membiarkan kalian memakan masa depan anak-anak kami demi investasi asing.”

Malam itu, di seluruh penjuru kota, harga pangan mendadak stabil karena intervensi masif dari jaringan rahasia Panca. Perjuangan melawan legalisme otoriter baru saja memasuki babak baru yang lebih berdarah.

Latest articles

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti...

PANCA 01: PERJAMUAN PARA PENGKHIANAT

Lantai marmer aula hotel itu berkilau hingga Panca Saputra bisa melihat bayangan wajahnya. Berdiri...

RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat Hukum Adat Penulis: E. T. Hadi...

Mengawal Arah Kebijakan Fiskal 2026: Strategi Ekstensifikasi di Tengah Target Ambisius

JAKARTA – Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi arsitektur ekonomi Indonesia. Di bawah kepemimpinan...

More like this

PANCA 02: EFEK LIAR ANGGARAN MERCUSUAR

Debu jalanan menempel di kaca helm Panca Saputra saat motor operasional Serlog miliknya berhenti...

PANCA 01: PERJAMUAN PARA PENGKHIANAT

Lantai marmer aula hotel itu berkilau hingga Panca Saputra bisa melihat bayangan wajahnya. Berdiri...

RESENSI BUKU: Menggugat Tirani Kertas di Tanah Ulayat

Judul Buku: Daerah Istimewa Dimana? Rekonstruksi Konstitusional untuk Masyarakat Hukum Adat Penulis: E. T. Hadi...