Matahari Jakarta pukul satu siang terasa seperti menempel di kulit. Panca Saputra menyeka keringat yang mengucur dari dahi hingga ke alis tebalnya. Ia bersandar di jok motor operasional Serlog miliknya, menunggu pesanan masuk di bawah bayangan pohon mahoni yang meranggas. Tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter tampak sedikit membungkuk karena kelelahan, namun pancaran matanya tetap cerah, mencerminkan keteguhan hati yang tidak goyah oleh panas aspal.
Di saku jaket abu-abunya, ponsel butut Panca bergetar. Hanya sebuah notifikasi promo, bukan pesanan. Panca menghela napas panjang. Sejak anggaran 335 triliun dialokasikan secara besar-besaran untuk proyek mercusuar, daya beli masyarakat menurun drastis. Orang-orang lebih memilih memasak mie instan di rumah daripada memesan makanan melalui aplikasi. Di pangkalan itu, Panca tidak sendiri. Puluhan pengemudi lain tampak lesu, beberapa tertidur di atas motor dengan wajah kusam tertutup debu.
“Sepi ya, Nca,” celetuk seorang pengemudi tua di sebelahnya. Pria itu sedang menghitung lembaran uang ribuan yang lusuh. “Beras naik lagi. Telur apalagi. Katanya ada program makan gratis, tapi di pasar harganya malah mencekik. Anak saya di rumah sampai bingung mau makan apa besok. Pendapatan hari ini bahkan tidak cukup untuk menutup modal bensin.”
Panca hanya mengangguk pelan. Kerisauan itu juga ia rasakan. Sebagai pengendali rahasia Sereko, ia tahu bahwa inflasi ini adalah hasil dari monopoli vendor yang didukung oleh kekuatan politik di Senayan. Namun, sebagai seorang kurir, ia harus tetap merasakan pedihnya kaki yang pegal dan perut yang keroncongan demi menjaga penyamarannya. Penderitaan ini bukan sekadar fisik, tapi beban moral karena melihat hukum justru digunakan sebagai senjata untuk meminggirkan masyarakat kecil.
“Yang paling menyakitkan itu status kita ini, Nca,” lanjut pengemudi tua itu, suaranya parau. “Mereka menyebut kita ‘mitra’. Tapi dalam kenyataannya, kita tidak punya suara. Perusahaan sesuka hati memotong insentif, menaikkan biaya aplikasi, dan kita hanya bisa pasrah. Kalau protes, akun diputus. Tidak ada perlindungan, tidak ada jaminan. Kita ini mitra rasa kuli.”
Tiba-tiba, televisi di warung kopi seberang jalan menampilkan wajah Sahroni. Pimpinan DPR itu tampil necis dengan kacamata mahal, berbicara di atas podium mewah tentang regulasi baru. “Kita perlu menertibkan distribusi logistik ilegal yang merusak ekosistem resmi pemerintah,” ujar Sahroni dengan nada berwibawa. Panca tahu, “distribusi ilegal” yang dimaksud Sahroni adalah unit Sereko yang mulai mengganggu profit kroni-kroni mereka. Sahroni juga menyinggung soal “standardisasi layanan mitra” yang sebenarnya adalah sandi untuk menambah beban potongan bagi para pengemudi logistik.
Panca mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah praktik lawfare yang nyata—perang menggunakan hukum. Sahroni dan kelompoknya sedang menyusun aturan untuk mengkriminalisasi siapa pun yang mencoba membantu rakyat dengan harga murah, sembari memeras para “mitra” dengan dalih biaya administrasi yang kian membengkak. Mereka membungkus penindasan itu dengan bahasa regulasi yang seolah-olah sah secara prosedur.
Sila Saputra datang menghampiri dengan motor matiknya. Arsitek itu tampak tetap elegan meski wajahnya memerah karena panas. Kacamata berbingkai merahnya sedikit turun ke ujung hidung. Ia membawa bungkusan nasi sederhana dan botol air mineral untuk suaminya. Sila duduk di samping Panca, menatap suaminya dengan penuh rasa khawatir namun tetap bangga. Panca melihat tangan istrinya yang halus kini mulai nampak letih karena harus ikut berhemat demi menutupi biaya operasional kantor arsiteknya yang kian sepi proyek.
“Mas, aku baru dari kantor dinas,” bisik Sila sambil menyerahkan bungkusan nasi. “Mereka mulai menekan perusahaan logistik kecil. Katanya ada perintah dari ‘atas’ untuk memperketat izin operasional Serlog. Pendapatan kantor kita juga terjun bebas, Mas. Proyek pemerintah semua ditarik ke BUMN besar yang berafiliasi dengan Ayah dan Pak Sahroni. Mereka benar-benar ingin menutup semua celah kita.”
Panca membuka bungkusan nasi itu, membaginya dua dengan Sila. “Mereka lupa satu hal, Sila. Hukum yang kehilangan ruh etika hanya akan menjadi alat pemukul sementara. Semakin keras mereka menekan para mitra dan rakyat kecil, semakin besar energi yang terkumpul di akar rumput. Ini adalah volksgeist, jiwa bangsa yang tidak bisa mereka bungkam dengan pasal-pasal titipan.”
Saat Panca menyuap nasi, Giring-Giring Keadilan di saku celananya bergetar hebat. Di ujung jalan, sekelompok petugas ketertiban sedang membubarkan paksa para pedagang kecil yang mencoba menjual sembako murah dari jaringan Sereko. Suasana menjadi kacau. Tangisan pedagang pecah saat lapak mereka digulingkan atas nama “ketertiban umum”. Para pengemudi ojol yang sedang menunggu pesanan pun ikut diusir karena dianggap mengganggu estetika kota.
Panca berdiri. Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh energi yang dingin dan tajam. Aura macan putih mulai membias di belakang tubuhnya, meski hanya kasat mata bagi mereka yang memiliki kepekaan spiritual. Matanya yang cerah kini berkilat dengan cahaya yang mengintimidasi.
“Sila, tetaplah di sini,” ujar Panca pendek.
Panca melangkah maju menuju kerumunan itu. Setiap langkahnya terasa berat dan berwibawa, membuat aspal seolah bergetar halus. Para petugas yang tadinya beringas mendadak terhenti, mereka merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan tembok raksasa yang tidak terlihat. Tekanan psikis dari aura Panca membuat tangan mereka gemetar tanpa sebab.
“Berhenti,” suara Panca rendah namun menggelegar, memotong keributan. “Kalian menegakkan hukum, atau kalian sedang menjalankan perintah untuk menindas? Ingat, seragam yang kalian pakai dibeli dari keringat orang-orang yang kalian gusur ini. Jika prosedur digunakan untuk menghancurkan kemanusiaan dan memeras para mitra yang sudah kesulitan, maka itu bukan lagi hukum, melainkan kejahatan yang dilegalkan.”
Panca mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan frekuensi darurat jaringan Sereko di seluruh distrik. “Instruksi untuk seluruh unit: Lindungi pasar rakyat dan para mitra. Jangan mundur satu inci pun. Biarkan mereka tahu bahwa marwah konstitusi tidak bisa dibeli dengan anggaran 335 triliun atau potongan aplikasi yang mencekik.”
Malam itu, Panca kembali ke rumah kontrakannya yang sempit dengan tubuh pegal. Ia duduk di lantai, menatap Sila yang sedang mempelajari dokumen hukum yang kaku. Panca tahu, penderitaannya sebagai pengemudi ojol dan status “mitra” yang semu adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk menjaga nurani bangsa. Ia adalah kurir yang tidak hanya mengantar paket, tapi juga mengantar keadilan ke setiap pintu rumah rakyat yang kian terhimpit.
#SangPendekarKonstitusi #Panca03 #OjolRakyat #MitraLogistik #Lawfare #Sahroni #SilaSaputra #Sereko #EtikaKonstitusi #GiringGiringKeadilan #PancaSaputra
