Panca Saputra berlutut di aspal parkiran ruko yang retak, tangannya yang kotor oleh oli mencoba memperbaiki rantai motornya yang kendur. Sebagai mitra ojol, motor adalah nyawanya, namun hari ini mesin itu seolah ikut protes terhadap beban hidup yang kian berat. Pendapatannya hari ini hanya cukup untuk membeli bensin dan dua liter beras. Panca menyeka keringat dengan lengan jaket Serlog abu-abunya, menatap logo SL hijau yang mulai pudar warnanya.
Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, Sahroni sedang duduk di kursi empuk kantor pimpinan DPR. Ruangan itu kedap suara, beraroma kayu cendana, dan dihiasi lampu kristal yang membiaskan cahaya ke arah meja jati besar. Sahroni menyesap kopi tanpa gula sambil menatap draf undang-undang di depannya. Di seberangnya, Suro Agul-Agul duduk dengan gelisah, sesekali membetulkan letak kerah kemeja sutranya.
“Izin Serlog harus segera dikaji ulang, Roni,” ujar Suro dengan suara berat. “Mereka mulai berani menyusupkan unit Sereko ke distribusi MBG. Kalau ini dibiarkan, margin keuntungan vendor kita akan habis dimakan harga murah mereka. Kamu tahu sendiri, defisit anggaran 335 triliun ini butuh ‘pengembalian’ yang cepat.”
Sahroni tertawa kecil, memperlihatkan jam tangan mewahnya yang berkilat. “Tenang, Tuan Suro. Politik itu soal seni mengatur prosedur. Kita tidak perlu membubarkan mereka secara kasar. Kita cukup menggunakan Regulatory Capture—penguasaan regulasi. Saya sedang menyusun ‘Standardisasi Nasional Logistik Strategis’. Siapa pun yang tidak punya modal setor lima ratus miliar, izinnya gugur otomatis.”
Suro tersenyum puas. “Itu brilian. Dengan satu aturan, kita membersihkan pasar dari pengganggu kecil seperti Panca dan jaringan kurirnya.”
Ponsel Panca berdering. Sebuah pesan singkat dari Sila masuk, memintanya datang ke rumah mertuanya untuk pertemuan keluarga darurat. Panca menghela napas. Ia tahu ini bukan sekadar silaturahmi. Dengan motor yang masih bersuara kasar, ia memacu tunggangannya menuju kawasan elite di Jakarta Selatan.
Panca tiba di kediaman Suro tepat saat Sahroni hendak berpamitan. Panca berdiri tegak dengan tinggi 180 sentimeter, menenteng helmnya yang lecet. Di depan pintu rumah yang megah itu, ia tampak seperti anomali. Sahroni berhenti di depan Panca, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan namun terselip rasa penasaran.
“Masih setia dengan aspal, Panca?” sindir Sahroni sambil merapikan jasnya. “Dunia sedang berubah. Parlemen sedang merancang ekosistem logistik yang lebih ‘modern’. Kurir mandiri tanpa standar seperti kalian hanya akan menjadi sejarah. Sebaiknya kamu nasehati istrimu untuk berhenti menghambat proyek Dapur Sentral di Baleg.”
Panca menatap Sahroni tajam. Mata cerahnya berkilat, membuat Sahroni sedikit menarik langkah ke belakang tanpa sadar. “Hukum yang Anda buat di Senayan mungkin bisa mengubah kertas, tapi tidak bisa mengubah kebenaran di lapangan, Pak Sahroni. Anda menyebutnya modernisasi, tapi rakyat menyebutnya perampokan izin. Jika undang-undang hanya dibuat untuk melayani pemburu rente, maka itu adalah Lawfare yang nyata.”
Sahroni mendengus, mencoba mengembalikan kewibawaannya. “Bicara etika tidak akan mengisi tangki bensinmu, Panca. Realitasnya, kedaulatan itu ada di ketukan palu saya, bukan di knalpot motor ojolmu.”
Sila Saputra keluar dari dalam rumah, berdiri di samping Panca. Kacamata berbingkai merahnya berkilat tertimpa lampu teras. Ia memegang lengan Panca dengan erat. “Ketukan palu tanpa nurani hanya akan menghasilkan kebisingan, Pak Sahroni. Kami sudah mengantongi data spesifikasi material dapur yang kalian curangi. Jika regulasi baru itu dipaksakan, kami tidak akan segan membawanya ke publik.”
Suro Agul-Agul muncul dari balik pintu, wajahnya memerah karena marah. “Sila! Kamu lebih membela kurir miskin ini daripada ayahmu sendiri? Ingat, semua kemewahan yang kamu nikmati berasal dari sistem ini!”
Panca merasakan getaran hebat di sakunya. Giring-Giring Keadilan berdentang kencang, hanya terdengar oleh mereka yang jiwanya sedang diuji. Aura dingin mulai menyelimuti area teras tersebut. Bayangan macan putih yang perkasa muncul samar di belakang Panca, membuat udara terasa statis dan berat.
“Marwah konstitusi tidak dijual di meja makan ini, Ayah,” suara Panca berubah, lebih dalam dan berwibawa. “Anda dan Pak Sahroni mungkin merasa aman di balik pasal-pasal titipan. Tapi ingat, hukum yang digunakan sebagai alat pemukul rakyat akan berbalik menghancurkan pembuatnya sendiri. Ini bukan sekadar ancaman, ini adalah hukum alam.”
Sahroni merasa bulu kuduknya berdiri. Ia segera masuk ke mobil mewahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Suro hanya bisa terpaku, merasa otot lehernya kaku seperti sedang diintai predator buas. Panca mengajak Sila pergi, meninggalkan kemewahan yang terasa hampa itu.
Di atas motor tuanya, Panca membonceng Sila membelah malam Jakarta. Pendapatannya mungkin sedang menurun, dan status “mitra” mungkin menjepitnya, tapi di dalam dadanya, api perlawanan terhadap legalisme otoriter kian membara. Perang regulasi telah dimulai, dan Panca siap menjadi kurir yang mengantarkan pesan keadilan hingga ke jantung Senayan.
#SangPendekarKonstitusi #Panca04 #PerangRegulasi #Sahroni #SilaSaputra #Lawfare #RegulatoryCapture #Sereko #Serlog #EtikaKonstitusi #PancaSaputra
