PANCA 05: GENERASI PENYINTAS ETIKA

Published on

spot_img

Panca Saputra duduk di bangku kayu panjang depan gudang sortir Serlog yang riuh. Di depannya, seorang pemuda bernama Dimas—salah satu kurir paling cerdas di jaringan itu—sedang sibuk memindai paket dengan kecepatan luar biasa. Dimas adalah lulusan sarjana hukum yang memilih menjadi “mitra” ojol daripada mengejar karier di firma hukum atau birokrasi pemerintahan.

“Dimas, manajemen pusat menawarkanmu posisi manajer operasional wilayah. Kenapa kamu tolak?” tanya Panca sambil membuka botol air mineral. Tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter bersandar santai, menatap Dimas dengan sorot mata cerah yang penuh selidik.

Dimas menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Untuk apa, Mas Panca? Jadi manajer hanya berarti saya harus belajar cara memanipulasi laporan agar sesuai dengan standar ‘efisiensi’ yang mereka mau. Di atas sana, jabatan bukan soal tanggung jawab, tapi soal seberapa pandai kita mengamankan kepentingan vendor. Saya lebih suka di aspal. Panas, tapi saya tahu siapa yang saya bantu.”

Panca terdiam. Fenomena ini kian masif di kalangan kurir muda. Mereka bukan malas, melainkan enggan menjadi sekrup dalam mesin birokrasi yang kehilangan ruh etika. Bagi mereka, naik jabatan dalam sistem yang cacat hanya berarti mendekatkan diri pada praktik Lawfare dan korupsi yang dilegalkan.

Di waktu yang hampir bersamaan, Sahroni sedang memberikan kuliah umum di sebuah universitas ternama. Di atas podium mewah, ia berbicara dengan gaya flamboyan yang khas. Jam tangan mewahnya berkilat setiap kali ia menggerakkan tangan untuk menekankan poin tentang “akselerasi karier nasional”.

“Generasi kalian harus ambisius! Jangan nyaman jadi staf atau mitra selamanya. Duduki jabatan-jabatan strategis agar kalian bisa mengendalikan regulasi,” seru Sahroni di depan ratusan mahasiswa yang tampak lesu.

Usai acara, Sahroni mengeluh kepada asistennya di dalam mobil. “Anak-anak muda sekarang aneh. Banyak posisi eselon yang kosong tapi mereka malah memilih jadi freelancer atau pengusaha kecil. Mereka tidak mau memegang kendali palu.”

Sahroni tidak sadar bahwa para pemuda ini sedang melakukan sabotase moral. Mereka menolak naik jabatan karena tidak ingin tangan mereka kotor oleh kebijakan seperti anggaran 335 triliun yang dipaksakan. Ini adalah bentuk Quiet Quitting massal terhadap sistem Autocratic Legalism.

Sila Saputra datang ke gudang Serlog sore itu, membawakan beberapa berkas desain untuk Panca. Kacamata berbingkai merahnya bertengger rapi, mencerminkan ketegasan seorang arsitek. Ia mendengar percakapan Panca dan Dimas tentang penolakan jabatan tersebut.

“Mas, fenomena ini nyata,” bisik Sila saat mereka berjalan menuju motor. “Di kantor arsitek pun sama. Banyak arsitek muda berbakat menolak jadi kepala proyek pemerintah. Mereka takut dipaksa menandatangani spesifikasi material yang disunat, seperti dapur sentral milik Ayah.”

Panca menghidupkan motor operasionalnya. “Ini adalah tanda bahwa Volksgeist atau jiwa bangsa sedang bereaksi, Sila. Ketika jabatan hanya dijadikan alat untuk menindas rakyat, maka menjauhi jabatan adalah tindakan terhormat. Mereka tidak mau naik jabatan karena mereka ingin tetap menjadi manusia.”

Tiba-tiba, sebuah surat peringatan dari dinas perhubungan tertempel di gerbang gudang. Isinya adalah pembatasan jam operasional bagi kurir “non-standar”. Ini adalah manuver terbaru Sahroni untuk memaksa para kurir masuk ke dalam ekosistem vendor resmi yang memiliki struktur jabatan ketat.

Panca menatap surat itu dengan dingin. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi markas rahasia Sereko. “Siapkan beasiswa internal dan posisi strategis di dalam Sereko untuk anak-anak muda ini. Jika mereka tidak mau naik jabatan di sistem mereka, kita bangun sistem kita sendiri. Kita butuh jenderal-jenderal muda yang tidak bisa dibeli.”

Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, Panca menyadari bahwa perjuangan ini bukan lagi soal adu otot, melainkan adu integritas antar generasi. Sahroni punya palu, tapi Panca punya nurani para pemuda yang menolak tunduk pada kekuasaan yang hampa etika.

#SangPendekarKonstitusi #Panca05 #GenZ #EtikaJabatan #Sahroni #SilaSaputra #Lawfare #AutocraticLegalism #Sereko #Serlog #PancaSaputra

Latest articles

PANCA 07: MANDAT YANG TERGADAI

Gedung kura-kura di Senayan itu tampak megah, namun di dalamnya, lorong-lorong ruang komisi terasa...

PANCA 06: ANATOMI RAHIM PENCUCIAN UANG

Panca Saputra duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan, menyeruput kopi hitamnya yang mulai...

PANCA 04: PERANG REGULASI DI SENAYAN

Panca Saputra berlutut di aspal parkiran ruko yang retak, tangannya yang kotor oleh oli...

PANCA 03: KERISAUAN KURIR RAKYAT

Matahari Jakarta pukul satu siang terasa seperti menempel di kulit. Panca Saputra menyeka keringat...

More like this

PANCA 07: MANDAT YANG TERGADAI

Gedung kura-kura di Senayan itu tampak megah, namun di dalamnya, lorong-lorong ruang komisi terasa...

PANCA 06: ANATOMI RAHIM PENCUCIAN UANG

Panca Saputra duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan, menyeruput kopi hitamnya yang mulai...

PANCA 04: PERANG REGULASI DI SENAYAN

Panca Saputra berlutut di aspal parkiran ruko yang retak, tangannya yang kotor oleh oli...