PANCA 08: AHLI DALAM SORAK-SORAI

Published on

spot_img

Langkah sepatu bot Panca Saputra bergema di lantai granit selasar gedung DPR yang dingin. Jaket abu-abu Serlog yang ia kenakan tampak kontras dengan deretan pemuda-pemudi berpakaian modis yang duduk bergerombol di sofa-sofa empuk sepanjang lorong. Panca berdiri tegak dengan tinggi 180 sentimeter, matanya yang cerah memperhatikan layar-layar ponsel mahal mereka yang tidak menampilkan draf undang-undang, melainkan sedang sibuk mengedit video pendek untuk media sosial.

Di depan pintu ruang kerja Hendra Wijaya, Sila Saputra sedang berdiri dengan raut wajah frustrasi. Kacamata berbingkai merahnya sedikit turun ke ujung hidung, sementara tangannya menggenggam bundel analisis dampak ekonomi yang diabaikan. Di hadapannya, tiga orang pemuda yang menjabat sebagai “Staf Ahli” justru sibuk tertawa sambil mendiskusikan jumlah tayangan video kampanye terbaru mereka.

“Maaf, Mbak Sila,” ujar salah satu staf ahli itu tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Penampilannya lebih mirip model daripada seorang analis kebijakan. “Pak Hendra sedang tidak bisa diganggu. Lagipula, dokumen Mbak ini terlalu teknis. Kita butuh narasi yang lebih ‘masuk’ ke Gen Z, bukan tumpukan angka yang bikin pusing pemilih.”

Panca mendekat dan berdiri di samping Sila. Kehadirannya yang tegap dan rahangnya yang tegas seketika memberikan tekanan yang tak kasat mata di lorong itu. “Kalian disebut staf ahli karena keahlian kalian membedah hukum, atau karena keahlian kalian bersorak di panggung kampanye?” tanya Panca dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Ketiga pemuda itu tersentak, merasa suhu di sekitar mereka mendadak turun. Mereka menatap Panca, mencoba mencari celah untuk menghina kurir di depan mereka, namun sorot mata Panca yang berwibawa membuat lidah mereka kelu.

Hendra Wijaya keluar dari ruangannya, tampak flamboyan dengan jas biru dongker dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia merangkul salah satu staf ahlinya dengan bangga. “Panca, Sila, jangan terlalu kaku. Ini adalah wajah baru parlemen. Mereka adalah ‘ahli’ dalam menangkap denyut nadi rakyat di media sosial. Di zaman sekarang, popularitas adalah mata uang politik yang lebih berharga daripada gelar akademis.”

“Ini bukan soal popularitas, Pak Hendra,” sela Sila dengan suara jernih namun tajam. “Ini soal kualitas undang-undang. Bagaimana mungkin naskah legislasi MBG bisa matang jika orang-orang di sekitar Anda bahkan tidak mengerti perbedaan antara defisit anggaran dan pengkhianatan mandat? Menempatkan tim hore sebagai staf ahli adalah bentuk korupsi intelektual.”

Hendra Wijaya tertawa meremehkan. “Rakyat tidak makan substansi, Sila. Mereka makan apa yang mereka lihat di layar ponsel. Legislasi sudah selesai di tangan Don Hendra, dan anak-anak muda ini yang bertugas membungkusnya agar terlihat manis di mata pemilih. Itulah realitas politik yang kalian tolak.”

Panca merasakan getaran Giring-Giring Keadilan di sakunya, berbunyi nyaring merespons kebusukan sistem yang sedang dipamerkan. Di belakang punggung Panca, bayangan Macan Putih muncul dengan mata emas yang berkilat, membuat para staf ahli itu mendadak merinding dan mundur beberapa langkah tanpa sebab yang jelas.

“Anda sedang membangun istana dari pasir, Pak Hendra,” ujar Panca, suaranya menggelegar halus di lorong tersebut. “Menjadikan jabatan ahli sebagai hadiah bagi tim hore adalah pengkhianatan terhadap marwah gedung ini. Ketika keahlian disingkirkan oleh sorak-sorai, maka undang-undang yang lahir hanyalah sampah yang dibungkus kertas kado.”

Panca melangkah maju, membuat Hendra Wijaya refleks mundur hingga menyentuh pintu ruangannya. “Hukum tanpa etika adalah jasad tanpa nyawa. Dan pemerintahan yang dikelilingi oleh pemuja jabatan tanpa kompetensi adalah pemerintahan yang sedang berjalan menuju liang lahatnya sendiri. Anda mungkin bisa membungkam debat di ruang sidang, tapi Anda tidak bisa membungkam kenyataan pahit yang akan meledak di lapangan.”

Sila menarik napas panjang, menatap para staf ahli itu dengan iba. “Kasihan kalian. Dijadikan tameng intelektual untuk menutupi keserakahan yang kalian sendiri tidak pahami. Suatu saat, ketika sistem ini runtuh, kalianlah yang akan pertama kali dibuang.”

Panca dan Sila berbalik, meninggalkan Hendra yang tampak geram dan para staf ahlinya yang masih terpaku lemas. Di parkiran, Panca menghidupkan motor Serlog-nya yang berdebu. Di aspal Jakarta yang panas, ia tahu bahwa perjuangan melawan Autocratic Legalism kini juga harus berhadapan dengan tembok kedangkalan yang dipelihara oleh kekuasaan.

Malam itu, Panca memberikan instruksi kepada unit riset Sereko. “Bongkar rekam jejak setiap staf ahli di Senayan. Tunjukkan pada publik bahwa pajak mereka digunakan untuk menggaji tim hore, bukan untuk membiayai ahli yang bekerja demi rakyat. Biarkan dunia tahu siapa sebenarnya yang menulis undang-undang di negeri ini.”

#SangPendekarKonstitusi #Panca08 #AhliSorakSorai #TimHoreSenayan #DonHendra #HendraWijaya #AutocraticLegalism #Lawfare #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra

Latest articles

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

PANCA 11: GRAVITASI KEKUASAAN

Panca Saputra menghentikan motor Serlog miliknya di depan sebuah kantor kementerian yang tampak kaku...

More like this

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....