Debu kering beterbangan di sebuah desa terpencil saat motor operasional Serlog milik Panca Saputra berhenti di tepi lapangan warga. Panca menyeka keringat yang membasahi alis tebalnya, menatap kerumunan orang yang berkumpul di bawah tenda besar berwarna partai. Tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter tampak menonjol di antara kerumunan warga desa yang terlihat lesu. Jaket abu-abunya yang berdebu dengan logo SL hijau menjadi saksi bisu betapa jauhnya ia telah melangkah untuk mengantar keadilan, bukan sekadar paket.
Di tengah lapangan, sebuah panggung megah berdiri dengan spanduk raksasa bertuliskan: “Masa Reses: Menyerap Aspirasi dan Penyaluran Bantuan Sosial Strategis”. Namun, Panca tidak melihat adanya dialog substansi. Yang ia lihat adalah pembagian paket Bansos berupa beras dan minyak goreng dalam kemasan plastik yang ditempeli stiker wajah anggota dewan setempat, anak buah setia Hendra Wijaya. Musik dangdut berdentum keras, menenggelamkan keluhan warga tentang nama mereka yang mendadak hilang dari daftar penerima bantuan sejak megaproyek anggaran 335 triliun itu dialokasikan.
“Terima kasih atas Bansosnya, Pak Dewan! Jangan lupa pilih lagi ya nanti!” teriak salah satu staf ahli—si “tim hore” yang pernah Panca temui di Senayan—sambil memegang pengeras suara. Ia sibuk mengarahkan kamera ponsel untuk mengambil video testimoni warga yang dipaksa tersenyum sambil memegang kantong beras bantuan yang ukurannya tampak tidak sesuai standar.
Panca mendekat ke arah tenda, membawa sebuah paket kiriman berisi salinan data terpadu kesejahteraan sosial yang asli untuk kelompok masyarakat setempat. Ia melihat bagaimana masa reses, yang seharusnya menjadi ruang akuntabilitas publik, telah didegradasi menjadi instrumen clientelism. Dana Bansos yang berasal dari pajak rakyat digunakan untuk membiayai panggung sandiwara demi mengamankan suara melalui pembagian barang yang sebenarnya adalah hak rakyat, namun diklaim sebagai kemurahan hati pribadi sang wakil rakyat.
“Aspirasi apa yang Bapak serap hari ini?” tanya Panca tenang saat ia berpapasan dengan sang anggota dewan di balik panggung. Suara Panca yang rendah namun bertenaga seketika membuat keriuhan di sekitar mereka terasa meredup.
Anggota dewan itu tersentak, menatap Panca dengan pandangan meremehkan. “Kamu kurir tahu apa? Rakyat itu butuh Bansos, butuh beras, bukan butuh diskusi undang-undang. Saya memberi mereka bantuan nyata di musim sulit ini. Itu namanya politik yang membumi.”
Panca menatap tajam, membuat mata cerahnya berkilat penuh intimidasi. “Anda memberi mereka bantuan dari uang negara, lalu meminta mereka berterima kasih kepada Anda secara pribadi. Anda di sini bukan untuk kampanye, tapi untuk menjelaskan mengapa banyak warga miskin yang haknya dipangkas demi mendanai ambisi proyek 335 triliun yang Anda sahkan di Senayan.”
Hendra Wijaya muncul dari balik mobil mewah yang terparkir di belakang panggung. Ia datang untuk memantau “investasi politik” di daerah tersebut. Don Hendra tampak necis dengan kemeja putih mahal dan kacamata hitam. Ia tersenyum sinis melihat Panca.
“Panca, Panca. Kamu masih saja berkeliling dengan motor tua itu untuk mencari kesalahan kami?” ujar Hendra Wijaya sambil menghisap cerutunya. “Lihatlah warga ini. Mereka senang. Mereka mendapat beras. Di gedung parlemen, legislasi anggaran bantuan ini sudah selesai dengan efisien. Di sini, di lapangan, kami menjaga loyalitas. Ini adalah siklus kekuasaan yang sempurna.”
Panca merasakan getaran Giring-Giring Keadilan di sakunya. Lonceng itu berdentang keras, merespons kebusukan di balik senyum manipulatif Hendra. Aura Macan Putih mulai bangkit, sebuah bayangan besar yang dingin dan perkasa muncul di belakang Panca, membuat para staf ahli yang tadinya sibuk bersorak mendadak terdiam membeku karena ketakutan yang tidak bisa mereka jelaskan.
“Siklus yang Anda bangun adalah siklus pengkhianatan,” suara Panca kini menggelegar halus, membuat tenda besar itu seolah bergetar. “Masa reses adalah mandat konstitusi untuk mendengarkan, bukan untuk menyuap. Ketika Anda menggunakan Bansos dan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi pemilu, Anda sedang melakukan korupsi politik di depan mata rakyat yang Anda anggap bodoh.”
Sila Saputra berjalan menghampiri dari arah balai desa. Arsitek itu mengenakan kacamata berbingkai merah yang mencolok, membawa tablet berisi data audit distribusi bantuan yang tidak tepat sasaran. Sila berdiri di samping Panca, tinggi badannya yang 160 sentimeter tidak mengurangi kewibawaannya saat menghadapi Hendra.
“Kami sudah memetakan aliran Bansos di distrik ini, Pak Hendra,” tegas Sila. “Hampir enam puluh persen paket bantuan jatuh ke tangan tim sukses dan kerabat perangkat desa yang berafiliasi dengan partai Anda, sementara janda tua dan buruh tani di pinggir desa dicoret dari daftar. Anda mengubah kewajiban negara menjadi kegiatan marketing politik. Inilah bukti nyata Autocratic Legalism yang merusak keadilan sosial kita.”
Hendra Wijaya tertawa terbahak-bahak, meski ia harus memegang pinggiran panggung agar kakinya tidak gemetar akibat tekanan aura Panca. “Lakukan saja auditmu, Sila. Rakyat hanya butuh fisik barangnya sekarang, bukan angka di layar tablet. Dan selama mereka merasa menerima sesuatu dari tangan saya, mereka akan tetap berada di pihak saya.”
Panca melangkah satu langkah ke depan, dan seketika tiang bendera di dekat panggung retak. “Beras satu liter untuk membeli suara lima tahun adalah penghinaan terhadap martabat manusia. Rakyat mungkin bisa Anda suap hari ini, tapi nurani mereka sedang mencatat setiap ketidakadilan ini. Macan ini tidak akan membiarkan tanah dapil ini hanya menjadi ladang jarahan para Don politik.”
Panca dan Sila berbalik, meninggalkan panggung sandiwara yang mulai terasa mencekam. Di atas motor Serlog-nya, Panca menoleh ke arah kerumunan warga yang mulai berhenti bersorak dan mulai memeriksa kembali isi kantong beras mereka, seolah-olah kesadaran mereka baru saja terbangun oleh denting lonceng perak yang tak terdengar. Perjuangan di akar rumput baru saja dimulai, dan Panca Saputra akan memastikan bahwa bantuan yang asli tidak akan menjadi alat pemikat janji palsu.
#SangPendekarKonstitusi #Panca09 #ResesSandiwara #BansosPolitik #DonHendra #HendraWijaya #AutocraticLegalism #Lawfare #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra
