Motor operasional Serlog milik Panca Saputra menderu pelan saat menanjak jalanan berliku menuju Bojong Koneng. Udara pegunungan yang dingin mulai menusuk jaket abu-abu Panca, namun panasnya isu pengkhianatan mandat di kota tetap membakar dadanya. Panca berhenti di depan sebuah gerbang kayu yang asri, dikelilingi rimbun pepohonan dan tebing curam. Tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter turun dari motor, menatap rumah yang lebih mirip perpustakaan di tengah hutan itu.
Di teras yang menghadap lembah, seorang pria dengan kaos hitam dan celana kargo duduk santai sambil membolak-balik buku filsafat yang tebal. Ia adalah Bung Rico, sang profesor akal sehat yang dikenal tajam lidahnya. Panca melangkah mendekat, langkah botnya beradu dengan kayu teras, menciptakan irama yang berwibawa.
“Selamat sore, Bung,” sapa Panca rendah. Mata cerahnya menatap barisan ribuan buku yang tertata rapi di rak-rak terbuka.
Bung Rico mendongak, melepas kacamatanya, lalu tersenyum tipis. “Kurir logistik atau kurir keadilan? Langkah kakimu terlalu berat untuk sekadar mengantar paket, Panca. Silakan duduk. Kita tunggu azan magrib sambil menjernihkan sisa-sisa kedunguan yang diproduksi di Senayan hari ini.”
Sila Saputra keluar dari dalam perpustakaan, membawa teko teh hangat. Arsitek itu tampak segar dengan kacamata berbingkai merah yang mencolok. Ia telah tiba lebih dulu untuk mendiskusikan konsep tata ruang berbasis etika lingkungan dengan sang tuan rumah. Sila duduk di samping Panca, meletakkan tangannya di lengan suaminya yang masih terasa tegang.
“Bung Rico sedang membedah naskah legislasi yang kemarin ‘diselesaikan’ Don Hendra lewat amplop cokelat itu, Mas,” bisik Sila.
Bung Rico menyeruput kopinya. “Legislasi itu bukan matematika kekuasaan, Panca. Tapi hari ini, mereka mengubahnya menjadi transaksi. Hendra Wijaya dan kroninya sedang mempraktikkan Autocratic Legalism pada tingkat yang paling kasar. Mereka membuat aturan bukan untuk menertibkan masyarakat, tapi untuk membedah isi kantong rakyat melalui Bansos dan monopoli logistik.”
Panca mengepalkan tangan. “Mereka menyebutnya realitas politik, Bung. Bagi mereka, etika itu barang mewah yang tidak bisa dimakan.”
“Itulah letak kekeliruannya,” balas Bung Rico tajam. “Tanpa etika, kekuasaan hanyalah kumpulan syahwat yang dilegalkan. Mereka menggunakan Lawfare untuk membungkam kritik, seolah-olah semua tindakan mereka sah karena ada nomor undang-undangnya. Padahal, undang-undang tanpa moralitas hanyalah sampah peradaban.”
Azan magrib berkumandang dari kejauhan, menggema di lembah Bojong Koneng. Mereka berbuka dengan sangat sederhana—beberapa butir kurma, air mineral, dan singkong rebus. Tidak ada kemewahan seperti perjamuan Don Hendra di hotel bintang lima, namun di meja kayu itu, kedaulatan pikiran terasa begitu megah.
Saat Panca baru saja meneguk air, Giring-Giring Keadilan di sakunya bergetar lembut. Bukan getaran peringatan bahaya, melainkan getaran resonansi terhadap kebenaran logika yang baru saja diucapkan. Bersamaan dengan itu, aura Macan Putih muncul samar di belakang Panca, namun kali ini terlihat lebih tenang, seolah sedang menyimak dialektika tersebut.
Bung Rico menatap ke belakang punggung Panca, matanya menyipit seolah bisa merasakan energi tersebut. “Kekuatan fisik dan supranaturalmu itu hanya alat, Panca. Tanpa narasi etika yang kuat, kamu hanya akan menjadi algojo. Tapi jika kamu berdiri di atas prinsip konstitusi yang murni, kamu adalah mimpi buruk bagi setiap tiran yang berpura-pura demokratis.”
Sila membuka laptopnya, menunjukkan data distribusi Bansos yang dikorupsi oleh jaringan Hendra Wijaya. “Bung, mereka mulai menggunakan aparat untuk menekan kurir Serlog di daerah. Mereka bilang kami mengganggu ekosistem resmi.”
“Ekosistem resmi yang mereka maksud adalah ekosistem maling,” ujar Bung Rico sambil tertawa sinis. “Teruslah bergerak. Biarkan mereka dengan kedunguan regulasinya. Kita akan lawan dengan akal sehat dan kekuatan akar rumput Sereko.”
Panca berdiri, tinggi badannya seolah menantang langit senja yang mulai menggelap. “Terima kasih atas diskusinya, Bung. Malam ini saya tahu bahwa di atas tebing ini, marwah bangsa masih dijaga dengan akal, bukan dengan amplop.”
Panca dan Sila meluncur turun dari Bojong Koneng. Di bawah lampu jalan yang temaram, Panca menyadari bahwa perjuangan ini membutuhkan ketajaman logika sedalam ia membutuhkan kekuatan macannya. Sang pendekar konstitusi kini membawa satu senjata tambahan dari atas tebing: argumen yang tak terpatahkan.
#SangPendekarKonstitusi #Panca10 #AkalSehat #BojongKoneng #DonHendra #HendraWijaya #AutocraticLegalism #Lawfare #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra
