PANCA 11: GRAVITASI KEKUASAAN

Published on

spot_img

Panca Saputra menghentikan motor Serlog miliknya di depan sebuah kantor kementerian yang tampak kaku dan dingin. Di tangga gedung, seorang pemuda terduduk lesu dengan tumpukan dokumen di sampingnya. Panca turun, tubuh tegapnya setinggi 180 sentimeter menciptakan bayangan panjang yang menaungi pemuda itu. Dari balik helm, mata cerah Panca menangkap gurat keputusasaan yang mendalam.

“Paket untuk bagian administrasi beasiswa?” tanya Panca rendah, mencoba mencairkan suasana.

Pemuda itu mendongak, matanya sembap. “Bukan, Bang. Saya baru saja menerima surat blacklist permanen. Saya penerima LPDP. Hanya karena saya vokal mengkritik kebijakan impor benih di media sosial, nama saya dicoret dari peradaban akademik. Mereka menuntut saya mengembalikan seluruh dana beasiswa sekarang juga, padahal saya baru saja lulus dan ingin mengabdi.”

Panca mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih di balik sarung tangan motor. Ia teringat bagaimana sistem ini bekerja. Guru-guru di sekolah selalu menekankan integritas, namun di gedung-gedung tinggi ini, integritas hanyalah barang dagangan. Jika mahasiswa atau warga biasa salah bicara sedikit saja, pintu masa depan langsung dikunci rapat. “Konsekuensi tegas demi integritas,” begitu dalih mereka.

Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari lobi gedung. Hendra Wijaya keluar dikelilingi oleh para staf ahli “tim hore” yang sibuk mengambil video. Hendra tampak lebih flamboyan dari biasanya, mengenakan jas yang harganya mungkin setara dengan sepuluh beasiswa luar negeri. Ia baru saja menghadiri rapat koordinasi tentang “penyesuaian jabatan” bagi beberapa koleganya yang tersandung skandal korupsi Bansos.

“Selamat, Pak Hendra! Posisi barunya sebagai Ketua Dewan Pengawas Strategis benar-benar tepat!” seru salah satu staf ahlinya dengan nada menjilat.

Panca melangkah maju, menghalangi jalan Hendra menuju mobil mewahnya. Rahang tegas dan alis tebalnya memancarkan tekanan yang membuat para pengawal Hendra langsung bersiaga. Hendra Wijaya menghentikan langkah, menatap Panca dengan senyum sinis yang merendahkan.

“Masih mau bicara soal etika, Panca?” tanya Hendra sambil membetulkan letak jam tangan mewahnya. “Lihatlah kawan-kawan saya. Mereka tempo hari ‘kepleset’ bicara soal anggaran, tapi hari ini kursi mereka makin empuk. Di dunia kami, kesalahan adalah dinamika demokrasi yang justru membuka peluang jabatan baru.”

Panca menatap Hendra dengan sorot mata yang mengintimidasi, membuat binar matanya berkilat tajam. “Lucu sekali, Pak Hendra. Saya baru saja melihat seorang mahasiswa cerdas dihancurkan hidupnya karena vokal terhadap ketidakadilan. Dia disuruh mengembalikan uang rakyat yang ia gunakan untuk belajar. Sementara Anda? Anda mengembalikan uang rakyat lewat kebijakan yang salah, tapi justru diberi panggung yang lebih besar.”

Hendra tertawa hambar. “Itulah bedanya kami dengan kalian. Kami punya massa, kami punya pengaruh. Rakyat kecil itu ibarat benda yang terikat gravitasi bumi; jatuh sedikit langsung mentok lantai. Tapi kami? Kami punya gravitasi unik. Semakin besar skandal kami, semakin tinggi kami jatuh ke atas.”

Sila Saputra muncul dari arah parkiran, langkahnya anggun namun tegas. Kacamata berbingkai merahnya mencerminkan keberanian yang tak tergoyahkan. Ia berdiri di samping Panca, menatap Hendra dengan pandangan jijik.

“Pak Hendra, Anda pengecut,” suara Sila jernih dan memotong kebisingan. “Anda begitu galak kepada mahasiswa dan warga yang vokal, tapi mendadak loyo di hadapan aparat dan kolega Anda yang korup. Anda menggunakan hukum sebagai alat untuk memadamkan kritik, tapi menggunakannya sebagai payung untuk melindungi nepotisme dan antek-antek asing.”

Hendra Wijaya mendengus, mencoba menahan kegugupannya. “Sila, jaga bicaramu. Semua pengangkatan jabatan ini sah secara prosedur legislasi yang sudah kita sepakati di DPR.”

“Sah secara prosedur, tapi busuk secara moral,” balas Panca. Di saku celananya, Giring-Giring Keadilan bergetar hebat. Suara dentingnya yang hanya bisa didengar oleh nurani seolah sedang menelanjangi kepalsuan di depan lobi tersebut. Aura Macan Putih muncul dengan sangat perkasa di belakang Panca, membuat udara di sekitar Hendra terasa sangat berat hingga ia kesulitan bernapas.

“Ingatlah ini, Don Hendra,” suara Panca menggelegar halus. “Anda mungkin merasa aman jatuh ke atas hari ini. Tapi semakin tinggi Anda naik di atas tumpukan kebohongan, semakin hancur Anda saat kejujuran menarik Anda turun. Macan ini tidak akan membiarkan hukum gravitasi kekuasaan Anda terus menindas orang-orang yang jujur.”

Panca membantu pemuda penerima beasiswa itu berdiri, menepuk bahunya dengan mantap. “Simpan dokumenmu. Sereko akan mengurus jaminanmu. Kita tidak butuh ijin dari mereka untuk membangun bangsa ini.”

Panca dan Sila pergi meninggalkan Hendra yang masih terpaku, dikelilingi staf ahlinya yang mendadak diam membisu. Di aspal jalanan, Panca menyadari satu hal pahit: di negeri ini, jika ingin aman jangan pernah kepleset bicara kebenaran, tapi jika ingin naik jabatan, keplesetlah secara strategis di jalur kekuasaan. Namun, sang pendekar konstitusi bersumpah akan mengubah arah gravitasi itu kembali ke bumi keadilan.

#SangPendekarKonstitusi #Panca11 #GravitasiKekuasaan #LPDP #HendraWijaya #DonHendra #AutocraticLegalism #Lawfare #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra

Latest articles

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

PANCA 10: DIALEKTIKA DI ATAS TEBING

Motor operasional Serlog milik Panca Saputra menderu pelan saat menanjak jalanan berliku menuju Bojong...

More like this

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....