PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Published on

spot_img

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra turun dari motor Serlog-nya di depan sebuah masjid tua yang tenang. Tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter berdiri diam, menatap papan pengumuman zakat yang mulai dipenuhi stiker kementerian. Panca menyeka keringat di dahinya, merasakan ada gema ketidakadilan yang merambat dari gedung-gedung pemerintahan menuju rumah ibadah.

Negara sedang melakukan constitutional overreach secara ugal-ugalan. Lewat UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, pemerintah seolah ingin menjadi “makelar” dana ibadah rakyat demi menambal program politik yang anggarannya megap-megap. Sungguh luar biasa melihat institusi negara begitu bernafsu mengelola uang “langit” rakyat, sementara uang pajak sering menguap tak jelas rimbanya.

Di dalam kantor pengelola zakat, Panca melihat seorang pengurus masjid tua sedang ditekan oleh beberapa petugas birokrasi. Tak lama kemudian, Menteri Umar muncul. Umar, yang dahulu dikenal sebagai pengurus DKM yang vokal, kini tampil necis dengan batik sutra dan kopiah hitam yang kokoh. Tangannya memutar tasbih, namun lisannya sedang merangkai dalih untuk menjarah otonomi umat.

“Adinda Panca, ini adalah ijtihad politik demi kemaslahatan,” ujar Menteri Umar dengan suara lembut yang manipulatif. “Zakat adalah potensi besar untuk mendukung kedaulatan pangan dan program strategis lainnya. Kita sedang membangun kontrak sosial yang baru.”

Panca menatap tajam Menteri Umar, mata cerahnya berkilat penuh peringatan. “Secara hukum tata negara, Pasal 29 UUD 1945 menjamin kemerdekaan beribadah. Zakat adalah ibadah murni yang aturannya sudah baku, bukan proyek katering yang bisa disetir birokrasi demi ambisi mercusuar. Memaksa dana ibadah masuk ke sistem administrasi negara yang sekuler adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat.”

Sila Saputra masuk ke ruangan itu, berdiri tegak dengan tinggi 160 sentimeter. Kacamata berbingkai merahnya berkilat tajam di bawah lampu neon masjid. “Ajaib sekali, Pak Menteri. Birokrasi begitu sigap mengurus zakat, tapi mendadak amnesia pada Pasal 34 UUD 1945 yang mewajibkan negara memelihara fakir miskin dari kas pajak. Inilah wajah asli ‘Negara Makelar’: gagal menjamin hak dasar rakyat lewat APBN, lalu mencari ‘cek kosong’ dari pundi-pundi umat.”

Umar mencoba tersenyum, meski tangannya yang memegang tasbih mulai bergetar. “Dinda Sila, kita harus realistis menghadapi keterbatasan anggaran penguasa.”

Panca merasakan getaran hebat dari Giring-Giring Keadilan di sakunya. Lonceng itu berdentang keras merespons hilangnya urat malu sang menteri. Aura Macan Putih bangkit perkasa di belakang Panca, sebuah energi besar yang menaungi kotak amal masjid, seolah melindunginya dari tangan-tangan serakah.

“Hukum gravitasi kekuasaan Anda sedang berusaha menarik uang suci ke lubang inefisiensi birokrasi,” suara Panca menggelegar halus. “Usulan judicial review kami adalah upaya jujur mengembalikan urusan ibadah ke pembiayaan yang suci. Jangan pernah jadikan ketaatan ibadah rakyat sebagai alat tambal sulam bagi kegagalan anggaran Anda.”

Panca melangkah maju, membuat Menteri Umar refleks mundur. “Zakat, perpuluhan, dan dana umat lainnya sedang Anda incar menggunakan aturan sekuler. Tapi ingat, rakyat bukan sekadar objek pajak, dan Tuhan bukan mitra bisnis untuk menutupi defisit politik Anda.”

Sila menatap para petugas itu satu per satu. “Ketaatan kami adalah urusan kami dengan Sang Pencipta. Jika Anda ingin uang, perbaiki pengelolaan pajak, bukan merampas kotak amal kami.”

Menteri Umar segera memberi isyarat kepada timnya untuk pergi, langkahnya terburu-buru seolah dikejar oleh bayangan macan. Panca dan Sila tetap di sana, memastikan pengurus masjid tetap memegang kendali atas amanah umat. Perlawanan terhadap “Negara Makelar” ini baru saja dimulai, dan sang pendekar konstitusi tidak akan membiarkan rahim kotak amal dibuahi oleh keserakahan kekuasaan.

#SangPendekarKonstitusi #Panca13 #RahimKotakAmal #NegaraMakelar #ZakatRakyat #MenteriUmar #ConstitutionalOverreach #AutocraticLegalism #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra

Latest articles

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

PANCA 11: GRAVITASI KEKUASAAN

Panca Saputra menghentikan motor Serlog miliknya di depan sebuah kantor kementerian yang tampak kaku...

PANCA 10: DIALEKTIKA DI ATAS TEBING

Motor operasional Serlog milik Panca Saputra menderu pelan saat menanjak jalanan berliku menuju Bojong...

More like this

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

PANCA 11: GRAVITASI KEKUASAAN

Panca Saputra menghentikan motor Serlog miliknya di depan sebuah kantor kementerian yang tampak kaku...