PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Published on

spot_img

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor operasional Serlog milik Panca Saputra. Panca turun, tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter berdiri diam menatap garis kuning KPK yang melintang di depan gudang logistik milik PT Blueray Cargo. Mata cerahnya yang berbinar menangkap kegelisahan di wajah para buruh angkut. Panca menyeka keringat di alis tebalnya, menyadari bahwa gempa di pelabuhan beberapa waktu lalu kini menyisakan reruntuhan moral yang nyata.

Berita pagi ini meledak seperti bom waktu: KPK baru saja meringkus Budiman Bayu Prasojo (BBP), Kepala Seksi Intelijen Cukai dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Tak tanggung-tanggung, lima koper berisi uang tunai senilai Rp5,19 miliar ditemukan di sebuah safe house di Ciputat. Panca tahu, uang itu bukan sekadar kertas; itu adalah harga dari dibukanya celah importasi barang “KW” yang menghancurkan industri tekstil dan UMKM dalam negeri.

“Benteng kita tidak roboh oleh serangan luar, Sila,” gumam Panca pelan. “Benteng ini keropos karena rayap di dalam strukturnya sendiri. Tujuh orang sudah ditahan, termasuk Rizal, mantan Direktur P2, dan Sisprian Subiaksono. Empat puluh miliar rupiah lebih disita, tapi kerusakan pada ekonomi rakyat jauh lebih besar dari angka itu.”

Sila Saputra berdiri di sampingnya, mengenakan kacamata berbingkai merah yang mencerminkan ketajaman nalarnya. Ia sedang memeriksa data manifes barang yang sempat ditahan. “Mas, modus mereka rapi sekali. Mereka menggunakan suap untuk memuluskan jalur hijau bagi barang-barang tertentu. Bahkan KPK menemukan indikasi bahwa uang haram ini dicuci melalui pembelian mobil operasional untuk menyamarkan aliran dananya. Ini adalah laundering yang dilakukan di bawah hidung administrasi negara.”

Tiba-tiba, Hendra Wijaya muncul dari balik barisan kontainer, dikelilingi oleh staf ahli “tim hore” yang tampak pucat. Don Hendra tidak lagi terlihat seangkuh biasanya. Kasus OTT di Lampung dan Jakarta ini nampaknya menyerempet beberapa jaringan bisnis yang selama ini ia lindungi melalui regulasi di Senayan.

“Panca, jangan terlalu cepat menghakimi,” ujar Hendra Wijaya sambil mencoba menghidupkan cerutunya yang terus padam tertiup angin laut. “Ini hanya oknum. Sistem Bea Cukai kita tetap yang terbaik di kawasan ini. Kita butuh stabilitas untuk menjaga arus barang megaproyek 335 triliun tetap lancar.”

Panca menatap Hendra dengan sorot mata yang mengintimidasi, membuat binar matanya berkilat tajam. “Oknum tidak beroperasi dalam kelompok tujuh orang dengan aset puluhan miliar, Pak Hendra. Ini adalah kegagalan sistemik yang sengaja dipelihara. Anda menyebutnya stabilitas, tapi bagi saya ini adalah Autocratic Legalism yang memberikan ruang bagi para penjaga gerbang untuk menjadi makelar bagi kepentingan importir gelap.”

Sila melangkah maju, tinggi badannya yang 160 sentimeter tidak menghalangi kewibawaannya saat ia menyodorkan tablet berisi analisis hukum. “Pak Hendra, ketika intelijen Bea Cukai justru menjadi intelejen bagi kepentingan penyuap, maka kedaulatan ekonomi kita sudah tergadai. Anda menggunakan hukum untuk menekan kurir Serlog yang jujur, tapi Anda loyo di hadapan pejabat yang menimbun lima koper uang di Ciputat. Di mana integritas yang selalu Anda teriakkan di podium DPR?”

Panca merasakan getaran hebat dari Giring-Giring Keadilan di sakunya. Lonceng itu berdentang keras merespons kebusukan nurani yang sedang berusaha ditutupi oleh retorika Hendra. Aura Macan Putih muncul dengan perkasa di belakang Panca, sebuah bayangan raksasa yang seolah siap mengoyak setiap kebohongan yang keluar dari mulut para elit.

“Don Hendra,” suara Panca menggelegar halus di antara deru mesin derek pelabuhan. “KPK mungkin hanya menangkap tujuh orang, tapi Macan ini akan melacak hingga ke akar siapa yang memberi izin bagi PT Blueray Cargo dan antek-anteknya. Uang empat puluh miliar itu adalah bukti bahwa kedaulatan kita sedang dilelang di ruang-ruang intelijen cukai.”

Panca melangkah mendekat, membuat Hendra Wijaya refleks mundur hingga hampir menabrak kontainer. “Ingatlah apa yang ditulis E. T. Hadi Saputra: hukum yang kehilangan etika hanyalah alat untuk memperkaya kroni. Anda mungkin bisa membeli mobil operasional untuk menyamarkan uang suap, tapi Anda tidak bisa menyamarkan bau busuk pengkhianatan di mata rakyat.”

Hendra Wijaya segera memberi isyarat kepada timnya untuk pergi, langkahnya terburu-buru seolah ingin menghindari tekanan psikis dari kewibawaan Panca. Panca dan Sila tetap di sana, menatap kontainer-kontainer yang kini disegel KPK. Sang pendekar konstitusi tahu bahwa benteng yang keropos ini harus segera diperbaiki, sebelum seluruh kedaulatan bangsa ini hanyut dibawa arus importasi haram yang tak terbendung.

#SangPendekarKonstitusi #Panca14 #BeaCukaiKorupsi #KPKOTT #HendraWijaya #DonHendra #AutocraticLegalism #Lawfare #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra

Latest articles

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

PANCA 11: GRAVITASI KEKUASAAN

Panca Saputra menghentikan motor Serlog miliknya di depan sebuah kantor kementerian yang tampak kaku...

PANCA 10: DIALEKTIKA DI ATAS TEBING

Motor operasional Serlog milik Panca Saputra menderu pelan saat menanjak jalanan berliku menuju Bojong...

More like this

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

PANCA 11: GRAVITASI KEKUASAAN

Panca Saputra menghentikan motor Serlog miliknya di depan sebuah kantor kementerian yang tampak kaku...