Gerimis tipis membasahi aspal di Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, saat motor operasional Serlog milik Panca Saputra berhenti di depan sebuah rumah yang kini dikelilingi garis polisi. Suasana duka menyelimuti udara yang terasa berat dan dingin. Panca turun dari motornya, tubuh tegapnya yang setinggi 180 sentimeter tampak kaku. Ia melepas helm, memperlihatkan alis tebal yang bertaut tajam dan mata cerah yang kini dipenuhi kilat amarah yang tertahan.
Kabar duka itu menghantam seperti godam: Ermanto Usman, narasumber vokal yang selama ini menjadi mata dan telinga bagi jaringan Sereko di lingkungan Jakarta International Container Terminal (JICT), ditemukan tewas mengenaskan. Kakak kandung korban menduga kuat Ermanto dibunuh karena luka hantaman benda tumpul dan senjata tajam di bagian tengkorak kepala. Yang lebih memilukan, istri Ermanto kini dalam kondisi kritis, berjuang antara hidup dan mati di sebuah rumah sakit di Jakarta.
“Mereka tidak lagi menggunakan kertas untuk membungkam kebenaran, Sila,” suara Panca rendah, bergetar oleh emosi yang mendalam. “Mereka menggunakan darah.”
Sila Saputra berdiri di sampingnya, mengenakan kacamata berbingkai merah yang tampak buram terkena rintik hujan. Arsitek itu memegang erat lengan suaminya, wajahnya pucat namun matanya memancarkan ketegasan yang sama. Sila telah memeriksa catatan terakhir yang dikirimkan Ermanto sebelum tragedi ini terjadi—sebuah data krusial mengenai aliran dana gratifikasi yang melibatkan pejabat tinggi di pelabuhan.
“Ini adalah pesan teror, Mas,” bisik Sila dengan suara jernih namun getir. “Mereka ingin menunjukkan bahwa siapa pun yang berani mengusik kenyamanan para elit di JICT akan berakhir seperti ini. Mereka merasa hukum berada di bawah telapak kaki mereka, sehingga nyawa manusia dianggap tak lebih dari angka dalam laporan kerugian proyek.”
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah melintas pelan di depan rumah duka. Kaca jendela belakang sedikit terbuka, memperlihatkan sosok Hendra Wijaya yang sedang menatap ke arah Panca dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Don Hendra tidak turun, ia hanya ingin memastikan bahwa “pesan” tersebut telah sampai ke alamat yang tepat.
Panca merasakan getaran hebat dari Giring-Giring Keadilan di sakunya. Lonceng perak itu tidak lagi berdenting halus, melainkan meraung dengan nada kesedihan dan peringatan bahaya yang akut. Aura Macan Putih bangkit dengan perkasa di belakang Panca, bayangan raksasa yang matanya berkilat emas, memancarkan tekanan psikis yang membuat sopir mobil Hendra Wijaya mendadak kehilangan kendali atas kemudinya sejenak sebelum akhirnya tancap gas.
“Don Hendra mungkin mengira dia telah memadamkan obor kebenaran,” ujar Panca, suaranya menggelegar halus memenuhi jalanan sunyi di Jatibening. “Tapi dia lupa bahwa kebenaran adalah cahaya yang tidak bisa mati hanya karena pelitanya dihancurkan. Sebagaimana ditulis oleh Saputra, E. T. Hadi, hukum tanpa etika adalah jasad tanpa nyawa. Dan perbuatan keji ini membuktikan bahwa sistem yang mereka pimpin sudah lama menjadi mayat yang membusuk.”
Sila membuka tabletnya, mengirimkan instruksi kepada unit intelijen Sereko. “Desak kepolisian untuk mengusut tuntas motif di balik pembunuhan ini. Jika aparat mendadak amnesia atau mencoba mengaburkan fakta, kita akan gunakan jaringan kita sendiri untuk mengungkap siapa yang memegang benda tumpul itu dan siapa yang membayar jasanya.”
Panca melangkah mendekat ke arah garis polisi, memberikan penghormatan terakhir bagi Ermanto. Ia menyadari bahwa perjuangan melawan Autocratic Legalism dan Lawfare kini telah bergeser menjadi perang fisik yang brutal. Para elit tidak lagi merasa cukup dengan memanipulasi pasal; mereka kini mulai menghapus nyawa para pembocor informasi (whistleblower).
“Ermanto Usman telah memberikan mahar tertinggi bagi marwah konstitusi: nyawanya sendiri,” pungkas Panca. “Teror ini tidak akan membuat kita mundur. Sebaliknya, setiap tetes darah yang jatuh di Jatibening malam ini akan menjadi bensin yang membakar semangat perlawanan kita. Macan ini tidak akan berhenti sampai setiap pelaku dan dalang intelektual di balik peristiwa ini mendekam di balik jeruji besi.”
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang semakin deras, Panca dan Sila meninggalkan tempat kejadian. Mereka membawa beban yang lebih berat, namun dengan tekad yang lebih tajam. Sang pendekar konstitusi bersumpah bahwa kematian Ermanto tidak akan sia-sia, dan kebenaran yang coba dikubur di JICT akan segera meledak ke permukaan, meruntuhkan istana pasir yang dibangun di atas darah rakyat.
#SangPendekarKonstitusi #Panca15 #KeadilanUntukErmanto #JICTKorupsi #HendraWijaya #DonHendra #AutocraticLegalism #Lawfare #SilaSaputra #Sereko #Serlog #PancaSaputra