BerandaPolitik & KekuasaanSirkus Pembiaran: Saat Nasi di Piringmu Mulai Dikencingi

Sirkus Pembiaran: Saat Nasi di Piringmu Mulai Dikencingi

Published on

JAKARTA – Panggung sirkus global kita hari ini sedang mementaskan babak paling memuakkan tentang “seni pembiaran”. Investigasi kami menemukan pola yang sangat sederhana namun mematikan: setiap kali Anda membiarkan seorang algojo memvonis mati orang lain tanpa proses hukum yang adil, sebenarnya Anda sedang memberikan kunci rumah Anda kepada sang penindas. Sangat luar biasa melihat nalar publik yang sengaja ditumpulkan; kita dipaksa diam dan bersikap “diplomatis” saat melihat kekuatan besar bertindak layaknya Tuhan yang memegang palu hakim sekaligus pedang algojo terhadap martabat bangsa-bangsa lain.

Sejarah telah berteriak sangat keras melalui rentetan peristiwa berdarah yang kita biarkan berlalu begitu saja. Bila kamu biarkan mereka membunuh Hitler tanpa pengadilan sejarah yang utuh, menjatuhkan bom atom di Jepang, mencaplok tanah Palestina tanpa ampun, menjajah Panama, menculik Presiden Venezuela, hingga mengeksekusi Saddam Hussein secara extrajudicial, maka jangan kaget jika hari ini mereka begitu fasih memvonis mati Haji Khamenei hanya lewat ketikan jempol di media sosial. Inilah rantai kebiadaban yang kita biarkan tumbuh subur. Dan hukum alamnya sangat pasti: jika algojo itu sudah bosan menghancurkan negara tetangga, maka tentu saja ia akan datang ke rumahmu dan “mengencingi” nasi di piringmu sendiri.

Inilah wajah asli “Negara Makelar” di sirkus kebijakan kita. Di saat pemimpin kita tampil gagah mengenakan baju militer lengkap dengan atribut patriotisme, namun di meja perundingan justru begitu santun menghamba pada Paman Sam demi kursi di Board of Peace. Rakyat dipaksa hidup prihatin dengan kenaikan PPN 12% dan pajak jajan, sementara kedaulatan nasional kita justru sedang dijadikan toilet bagi kepentingan global. Kita sedang dikelola oleh mentalitas yang lebih takut kehilangan senyum Donald Trump daripada takut melihat rakyatnya lapar akibat kebijakan yang niretika. Sejarah tidak pernah memaafkan bangsa yang memilih memoles sepatu penindas menggunakan lembaran konstitusinya sendiri. Sampaikan opini anda di kolom komentar jika anda muak melihat martabat bangsa resmi diobral demi jabat tangan yang aromanya sudah sangat busuk!

Latest articles

Eskalasi Timur Tengah: Operasi Regional dan Kabut Suksesi Kepemimpinan di Teheran

TEHERAN, 2 Maret 2026 – Kawasan Timur Tengah kini berada dalam fase ketidakpastian tertinggi...

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...

PANCA 12: GEMPA DARI TANJUNG PRIOK

Hujan memang masih turun dari langit, tapi gempanya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan....

More like this

Eskalasi Timur Tengah: Operasi Regional dan Kabut Suksesi Kepemimpinan di Teheran

TEHERAN, 2 Maret 2026 – Kawasan Timur Tengah kini berada dalam fase ketidakpastian tertinggi...

PANCA 14: BENTENG YANG KEROPOS

Bau apek dari tumpukan kontainer tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok menyambut kedatangan motor...

PANCA 13: RAHIM KOTAK AMAL

Panggung sirkus birokrasi kini sedang memasuki wilayah paling sensitif: kotak amal masjid. Panca Saputra...