Tak Ada Habib di Muhammadiyah?

0
19
KH Ahmad Dahlan

Persepsi bahwa tidak ada ulama bergelar Habib di Muhammadiyah sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, beberapa ulama Muhammadiyah ternama memang memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW, seperti KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Namun, memang benar bahwa jumlah ulama bergelar Habib di Muhammadiyah tergolong sedikit dibandingkan organisasi Islam lain seperti Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

1. Penekanan Muhammadiyah pada Keahlian dan Keilmuan:

Muhammadiyah lebih menekankan pada keahlian dan keilmuan sebagai dasar kredibilitas seorang ulama. Bagi Muhammadiyah, menjadi ulama tidak ditentukan oleh nasab keturunan, melainkan oleh penguasaan ilmu agama yang mendalam dan kemampuan dalam menyampaikannya.

Hal ini tercermin dalam sistem pendidikan Muhammadiyah yang berfokus pada pengembangan intelektual dan pemahaman kritis terhadap teks-teks agama. Muhammadiyah memiliki banyak perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam yang melahirkan kader-kader ulama kompeten yang diakui luas.

2. Budaya Egalitarian dan Anti-Feudalisme:

Muhammadiyah menjunjung tinggi nilai egalitarian dan anti-feudalisme. Organisasi ini tidak menganut sistem hierarki berdasarkan keturunan atau nasab. Bagi Muhammadiyah, semua umat Islam memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi ulama dan berkontribusi dalam dakwah Islam.

Sikap ini berbeda dengan beberapa tradisi di mana gelar Habib diwariskan secara turun-temurun dan diasosiasikan dengan status sosial yang lebih tinggi. Muhammadiyah tidak mempercayai sistem semacam ini dan lebih fokus pada kesetaraan dan persaudaraan dalam Islam.

3. Fokus Muhammadiyah pada Pembaharuan Islam:

Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam pembaharu yang kritis terhadap tradisi dan bid’ah. Muhammadiyah mendorong interpretasi Al-Qur’an yang kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Beberapa tradisi terkait dengan penghormatan kepada keturunan Nabi, seperti Maulid Nabi dan ziarah kuburan, dikritik oleh Muhammadiyah karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Hal ini mungkin menjadi salah satu faktor yang membedakan budaya Muhammadiyah dengan organisasi Islam lain yang lebih akomodatif terhadap tradisi tersebut.

Penting untuk dicatat bahwa:

  • Meskipun jarang terlihat ulama bergelar Habib di Muhammadiyah, bukan berarti Muhammadiyah anti terhadap keturunan Nabi. Muhammadiyah tetap menghormati dan memuliakan Nabi Muhammad SAW dan keturunannya.
  • Banyak ulama Muhammadiyah yang memiliki ilmu agama yang mendalam dan kemampuan dakwah yang mumpuni, meskipun mereka tidak bergelar Habib.
  • Muhammadiyah terus berkontribusi dalam melahirkan kader-kader ulama yang kompeten dan berwawasan luas untuk menjawab tantangan dakwah di era modern.

Kesimpulannya, fenomena minimnya ulama bergelar Habib di Muhammadiyah tidak disebabkan oleh faktor diskriminasi atau antipati terhadap keturunan Nabi. Hal ini lebih terkait dengan penekanan Muhammadiyah pada keahlian, egalitarianisme, dan fokus pada pembaharuan Islam. Muhammadiyah tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi ulama dan berkontribusi dalam dakwah Islam, tanpa memandang latar belakang keturunan mereka.