BerandaOpiniBelajar dari The New Year's Eve: Apakah Hidup Kita Hanya Sibuk Menata...

Belajar dari The New Year’s Eve: Apakah Hidup Kita Hanya Sibuk Menata Properti Panggung?

Published on

Malam pergantian tahun selalu memiliki makna tersendiri bagi setiap orang. Ketika mendengar frasa “Tahun Baru”, ingatan kita secara otomatis memunculkan riuhnya gegap gempita malam pergantian tahun dengan segala ornamennya: kembang api, terompet, dan pesta pora. Di kehidupan nyata, media sosial akan dipenuhi oleh kurasi video pendek berisi rangkuman pencapaian selama setahun, mulai dari promosi jabatan, liburan mewah, hingga hubungan yang tampak tanpa cela. Sayangnya, euforia tersebut kerap berganti dengan kecemasan akan resolusi tahun baru yang belum tentu tercapai.

Namun, artikel ini tidak sedang membahas euforia tahun baru dalam arti sempit. Jika kita bersedia menepi sejenak dari kegilaan perayaan itu dan menengok naskah drama klasik The New Year’s Eve karya Anthony Russo, kita akan disuguhi cermin yang retak. Drama ini menggunakan atmosfer pesta bukan untuk merayakan kebahagiaan, melainkan sebagai panggung ironi.

Di atas pentas, para tokohnya begitu sibuk menata “properti” untuk mempersiapkan pesta megah, mengenakan gaun terbaik, dan memasang senyum paling menawan. Mereka cemas jika panggungnya terlihat murah di mata penonton. Sayangnya, begitu jam berdentang di angka dua belas dan kembang api meredup, topeng itu runtuh. Di balik gemerlapnya properti pesta, para tokohnya justru dijangkiti kesepian akut dan kepalsuan relasi. Drama ini dengan getir menunjukkan bahwa mereka berhasil memiliki pesta itu, tetapi kehilangan diri mereka sendiri di dalamnya.

Tragedi dalam The New Year’s Eve adalah potret akurat dari apa yang diperingatkan oleh psikolog humanistik Erich Fromm dalam karya besarnya, To Have or to Be?. Fromm membagi cara hidup manusia menjadi dua modus eksistensi: modus Having (Memiliki) dan modus Being (Menjadi).

Dalam modus Having, nilai diri seseorang ditentukan oleh apa yang melekat pada mereka: benda, gelar, status sosial, bahkan pasangan yang bisa dipamerkan. Slogannya yang mengerikan adalah “Saya adalah apa yang saya miliki.” Masalahnya, materi bisa hilang dan kedaluwarsa. Akibatnya, manusia Having selalu dihantui kecemasan konstan dan terjebak dalam histeria flexing demi mempertahankan pengakuan publik. Tragisnya, ketika perhatian publik berkurang sedikit saja, mereka langsung merasa nilai dirinya sebagai manusia ikut memudar.

Sebaliknya, Fromm menawarkan modus Being, sebuah cara hidup yang berakar pada pengalaman, aktualitas diri, dan koneksi yang tulus dengan realitas. Manusia dalam modus ini tidak mendefinisikan dirinya dari materi, melainkan dari bagaimana ia hadir secara utuh dalam setiap proses kehidupan. Slogannya beralih menjadi “Saya adalah diri saya yang hidup.” Manusia Being cenderung merasa lebih tenang dan dapat berpikir jernih meski dalam masa-masa sulit, karena mereka sadar bahwa dinamika hidup hanyalah bagian dari perjalanan menjadi manusia seutuhnya.

Hari ini, tanpa sadar kita perlahan bertransformasi menjadi “Manusia Properti”. Kita dikepung oleh algoritma digital yang memaksa kita berpindah dari modus Being ke Having. Kita lebih peduli pada estetika kamera sebuah hubungan (relationship goals) daripada kedalaman komunikasi itu sendiri. Kita lebih cemas kekurangan portofolio pekerjaan daripada kekurangan waktu untuk mengenali diri sendiri dan menikmati waktu berkualitas bersama orang-orang terdekat. Kita sibuk bersandiwara agar dinilai bahagia oleh orang lain, seraya membiarkan jiwa kita keropos di dalam. Padahal, standar kebahagiaan setiap orang berbeda dan tidak ada satu pun manusia yang memiliki hak penuh untuk menghakimi kehidupan orang lain.

Melalui metafora drama The New Year’s Eve, kita diingatkan kembali pada esensi eksistensi. Hidup ini bukanlah sebuah pertunjukan sandiwara yang melelahkan di mana kita harus terus-menerus memukau penonton dengan dekorasi yang megah. Ketika tirai panggung ditutup dan lampu sorot dimatikan, semua properti itu tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan batin.

Mungkin, ini saatnya kita berhenti sejenak, berkaca, dan berani bertanya pada diri sendiri: Apakah kita benar-benar sedang hidup, atau jangan-jangan, kita hanya sedang sibuk menata properti panggung?

Ditulis oleh: Aisyah Al Baroroh, S.S., M.Pd.

(Dosen Program Studi Sastra Inggris UNPAM)

Latest articles

Menembus Ilusi Jaminan Sosial: Membongkar Pemborosan Sistemik BPJS dan Urgensi Likuidasi Lembaga Perantara

Oleh: E. T. Hadi Saputra Data finansial triwulan berjalan per Juli 2026 ini bukan sekadar...

Anatomi Syahwat Politik di Balik Serbuan Seragam Cokelat ke Kursi Sipil

Oleh: ET Hadi Saputra Kesepakatan antara Pemerintah dan DPR untuk melegalkan polisi aktif menduduki...

PANGAN LOKAL DAN DAULAT BANGSA: MENYEPAKATI EKSEKUSI, BUKAN SEBATAS DISKUSI

Oleh: ET Hadi Saputra Senior Journalist & Analis Hukum JAKARTA, TANAHMERDEKA.COM — Diskusi publik bertajuk...

Di Hadapan Puluhan LSM dan Akademisi UI, Letjen TNI Mohamad Hasan Suarakan Kedaulatan Hulu Ciliwung

DEPOK, 22 Mei 2026 – Pendiri RIMBA (Relawan Indonesia Pembela Alam), Letnan Jenderal TNI...

Artikel Seperti Ini

Menembus Ilusi Jaminan Sosial: Membongkar Pemborosan Sistemik BPJS dan Urgensi Likuidasi Lembaga Perantara

Oleh: E. T. Hadi Saputra Data finansial triwulan berjalan per Juli 2026 ini bukan sekadar...

Anatomi Syahwat Politik di Balik Serbuan Seragam Cokelat ke Kursi Sipil

Oleh: ET Hadi Saputra Kesepakatan antara Pemerintah dan DPR untuk melegalkan polisi aktif menduduki...

PANGAN LOKAL DAN DAULAT BANGSA: MENYEPAKATI EKSEKUSI, BUKAN SEBATAS DISKUSI

Oleh: ET Hadi Saputra Senior Journalist & Analis Hukum JAKARTA, TANAHMERDEKA.COM — Diskusi publik bertajuk...