More
    BerandaEditorialDilema Dompet Tipis dan Ilusi Pendapatan

    Dilema Dompet Tipis dan Ilusi Pendapatan

    Membeli kemakmuran dengan cara kelaparan adalah ide jenius bagi mereka yang gagal logika, namun bagi penguasa yang malas berpikir, memeras keringat rakyat jauh lebih praktis daripada menciptakan lapangan kerja yang bermartabat. Kita dipaksa memilih antara ikat pinggang yang mencekik perut atau mengejar fatamorgana cuan di tengah badai pajak yang tidak masuk akal.

    Selamat datang di tahun 2026, di mana bernapas mungkin akan segera dikenakan pajak pertambahan nilai. Saya perhatikan, diskusi di internet hari ini sedang panas soal apakah kita harus cutting cost atau increase income. Lucu. Ini seperti bertanya pada seekor Hamster di dalam roda putar, apakah dia ingin lari lebih cepat atau makan lebih sedikit supaya bebannya ringan. Padahal, mau lari sampai kaki copot pun, si Hamster tidak akan pernah sampai ke mana-mana. Roda itu sistemnya.

    Tau tidak apa yang paling ironis? Pemerintah menyuruh kita melakukan frugal living sementara anggaran perjalanan dinas melambung setinggi langit. Itu analogi Siput yang menyuruh Kancil berhenti lari supaya energi hemat, padahal si Siput sendiri sedang naik jet pribadi. Di X (Twitter), orang-orang sibuk berdebat soal gaya hidup minimalis. Mereka bilang, tekan pengeluaran sampai titik nadir. Makan bubur tanpa kerupuk. Matikan lampu meski gelap gulita. Tapi mereka lupa, harga beras tidak peduli pada prinsip minimalis anda. Inflasi itu seperti Rayap. Dia tidak bersuara, tapi tiba-tiba fondasi rumah anda sudah keropos saja.

    Lalu ada kubu pemberi harapan palsu: “Tingkatkan pendapatan!”. Kedengarannya gagah. Tapi lihat realita hari ini, 5 Januari 2026. Job market sedang babak belur. Perusahaan lebih suka pakai AI daripada membayar manusia yang butuh makan. Mencari side hustle sekarang sama sulitnya dengan mencari kejujuran di pengadilan. Anda mau jualan online? Algoritma mencekik. Mau jadi content creator? Penontonnya sudah jenuh dengan konten pamer kekayaan hasil skema Ponzi.

    Secara hukum, hak atas penghidupan yang layak itu dijamin konstitusi. Tapi dalam praktik, kita lebih sering melihat hukum rimba ekonomi. Siapa yang punya modal besar, dia yang makan. Yang kecil? Silakan pilih antara mati pelan-pelan karena kurang gizi atau mati cepat karena stres memikirkan cicilan. Masalahnya bukan pada pengeluaran anda yang kebanyakan beli kopi susu, tapi pada sistem yang membuat harga kopi naik sepuluh kali lipat sementara gaji anda jalannya lebih lambat dari kura-kura lumpuh.

    Berhentilah mengagungkan penderitaan dengan dalih disiplin finansial jika itu hanya menutupi kegagalan struktural. Menekan pengeluaran ada batasnya—anda tidak bisa berhenti makan. Meningkatkan pendapatan ada temboknya—anda bukan pencetak uang. Jika sistem terus-menerus memposisikan rakyat sebagai sapi perah yang harus kurus tapi susunya harus banyak, maka pilihannya bukan lagi berhemat atau mencari tambahan. Pilihannya adalah berhenti menjadi sapi. Tutup buku, berhenti berilusi, dan akui bahwa kita sedang dipaksa menari di atas bara api oleh mereka yang memegang kipas angin di ruangan ber-AC.

    #Ekonomi2026 #FrugalLiving #PajakRakyat #GajiButa #Inflasi #StrukturEkonomi #Ketidakadilan #OpiniHukum #KeuanganPribadi #NasibRakyat

    Keep exploring...

    Hastinapura Ga Maju Maju

    Puluhan tahun saya heran, kenapa sih kerajaan Hastinapura 74 tahun merdeka tapi tetap aja ga maju maju? 1. Jumlah penduduk 270juta, 100 juta pensiunan, jadi...

    329 Pati TNI Mutasi 11 April

    JENDERAL. Mabes TNI mengumumkan sejumlah mutasi di lingkungan TNI pada 11 April kemarin. Yang menarik adalah di lingkungan TNI AD. Ada validasi organisasi sehingga...

    Places to travel

    Related Articles

    Ironi di Atas Puing Sumatera Barat: Dari Menko Angkat Karung hingga Anggota DPR Anti-Peluru

    Sudah tau kenapa bencana di negeri kita ini terasa tak pernah selesai? Mungkin karena...

    Menggugat “Nasi” di Dapur Raksasa MBG: Revolusi Pangan Endemik Tanpa Perawatan

    Bapak dan Ibu sekalian. Saya harus bicara ini. MBG itu proyek masa depan. Proyek yang...

    Ketika Tanya Ijazah Berujung Pidana

    Galileo dituduh gila karena bilang bumi itu bulat. Empat abad kemudian, di negeri kita,...

    Tembok Regulasi Vs. Akar Konstitusi: Mengapa Sertifikat Tanah Adat Justru Tidak Penting

    Oleh: ET Hadi Saputra, SH. (Senin, 10 November 2025) Saya sering melihatnya. Para birokrat sibuk....

    Imam Shamsi Ali: Trump dan WA

    Siapa Sangka, Ulama Asal Desa Terpencil di Indonesia Ini Jadi Target Serangan Balik Donald...

    Kenapa Pak Modi ‘Diisukan’ Panik?

    Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian. Mari kita awali hari dengan secangkir kopi dan sedikit diskusi...

    Kematian Hukum di Palestina: Tinggalkan “Solusi Dua Negara”?

    Oleh: ET Hadi Saputra (Pengamat Hukum) 13 Oktober 2025. Sikap konsisten para Presiden Republik Indonesia...

    Purbaya dan Jurang UU Keuangan Negara

    Manuver ‘koboi’ Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk memacu ekonomi dengan memindahkan dana segar...