Matinya Simfoni Di Tanah Kayu Dan Tragedi Efisiensi Global

0
34

Ketika melodi piano tidak lagi mampu menutupi suara mesin yang berhenti dan tangis ribuan buruh yang kehilangan masa depan di awal tahun baru ini.

Saya bicara sebagai orang lama. Orang yang tahu persis bagaimana aroma kayu pilihan diolah menjadi instrumen kelas dunia. Sepanjang dekade 2000an hingga awal 2010an, saya adalah pemasok wood veneer untuk Yamaha Indonesia. Saya paham betul kualitas yang mereka tuntut. Saya mengerti standar tinggi yang mereka minta. Namun hari ini, standar itu runtuh bukan karena kualitas produk, melainkan karena syahwat efisiensi yang membabi buta.

PT Yamaha Indonesia dan PT Yamaha Music Product Asia resmi angkat kaki. Penutupan operasional di Pulo Gadung dan Cikarang ini adalah tamparan keras bagi narasi hilirisasi yang sering kita dengar. Katanya kita sedang membangun kedaulatan industri. Faktanya? Kita hanya menjadi tempat persinggahan modal yang sifatnya volatile. Yamaha memutuskan memindahkan produksinya ke China dan Jepang. Alasan mereka klasik. Penurunan global demand dan konflik geopolitik. Klise sekali.

Secara hukum, perusahaan memang punya hak untuk melakukan termination of employment demi penyelamatan aset. Regulasi kita, terutama melalui kacamata reformasi regulasi dalam UU Cipta Kerja, memang memberikan karpet merah bagi fleksibilitas bisnis seperti ini. Tapi sebagai ahli hukum yang juga jurnalis, saya melihat ada yang cacat dalam etika korporasi mereka. Mereka telah menetap di sini puluhan tahun. Menghisap saripati keringat buruh kita. Menikmati fasilitas negara kita. Lalu saat angin sedikit kencang, mereka melompat pagar.

Ibarat burung migran. Mereka datang saat musim bersemi. Mereka mencari makan hingga gemuk di tanah kita. Namun saat cuaca berubah sedikit dingin, mereka terbang tanpa menoleh ke belakang. Mereka meninggalkan sarang yang sudah rusak. Di sarang itu ada seribu seratus karyawan yang kini bingung mau makan apa besok. Pemerintah harusnya paham. Investor itu seperti kucing hutan. Mereka hanya jinak saat diberi makan. Begitu stok makanan di meja kita dianggap kurang menarik dibanding meja tetangga, mereka akan mencakar dan pergi.

Kita ini bangsa besar. Bukan sekadar bengkel atau tempat parkir modal yang bisa ditinggalkan begitu saja saat pemiliknya bosan. Relokasi ke China dan Jepang menunjukkan bahwa kita kalah bersaing dalam hal efisiensi atau mungkin kita terlalu lembek dalam menjaga komitmen investasi jangka panjang. Saya tahu betul bagaimana proses manufaktur itu berjalan. Komponen lokal kita sudah sangat mumpuni. Jadi kalau alasannya melulu soal biaya operasional, itu hanya bahasa halus untuk mengatakan bahwa mereka tidak lagi peduli pada kontribusi sosial di Indonesia.

Penutupan ini adalah tanda bahaya. Jika industri alat musik yang sudah mapan saja bisa kolaps, bagaimana dengan sektor lain? Jangan sampai kita hanya bangga pada angka investasi di atas kertas tapi gagal menjaga mereka tetap berakar di bumi pertiwi. Ini adalah kegagalan sistemik dalam menjaga ekosistem industri manufaktur nasional.

Selamat jalan Yamaha. Silakan bawa mesin-mesin kalian ke Beijing atau Tokyo. Kami di sini akan terus mengingat bahwa dulu ada simfoni indah yang pernah tercipta dari kayu-kayu kami. Namun simfoni itu kini berganti menjadi sunyi yang mematikan. Ingat satu hal. Burung migran mungkin bisa kembali lagi tahun depan. Tapi jangan harap kami akan menyiapkan sarang yang sama nyamannya. Tanah ini milik kami dan harga diri buruh kami bukan untuk dipermainkan atas nama efisiensi global yang tak punya hati.

#YamahaMusic #PHK2025 #EkonomiIndonesia #InvestasiAsing #Manufaktur #BuruhIndonesia #ETHSaputra #OpiniHukum #Industrialisasi #KeadilanSosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini