BerandaKARYA & GAYA HIDUPOBITUARI: Berpulangnya Yaya Moektio, Sang Penjaga Detak Jantung Rock Indonesia

OBITUARI: Berpulangnya Yaya Moektio, Sang Penjaga Detak Jantung Rock Indonesia

Published on

Jakarta – Awan duka kembali menyelimuti langit musik Indonesia. Yaya Moektio, drummer legendaris yang pukulan stiknya pernah memperkuat detak jantung dua raksasa rock tanah air, God Bless dan Gong 2000, telah berpulang ke Rahmatullah.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Yaya Moektio mengembuskan napas terakhir pada Senin, 8 Desember 2025, pukul 04.00 WIB di RS Fatmawati dalam usia 73 tahun.

Peristirahatan Terakhir

Jenazah almarhum dimakamkan pada hari yang sama, Senin (8/12), selepas waktu Dzuhur. Sang musisi ke tempat peristirahatannya yang terakhir di TPU Jeruk Purut, Blok AA2, Blad 69, Jakarta Selatan. Doa dan lantunan Al-Fatihah mengiringi kepergian sosok yang telah memberikan warna begitu kuat pada sejarah musik Indonesia ini.

Jejak Musikal Sang “Stylish Rocker”

Semasa hidupnya, Yaya dikenal sebagai musisi dengan karakter permainan yang khas. Julukan stylish rocker melekat padanya karena kemampuannya memadukan kekuatan (power) musik rock dengan akurasi dan keindahan pukulan yang jarang dimiliki drummer lain pada masanya.

Nama Yaya Moektio tidak bisa dilepaskan dari sejarah besar God Bless, khususnya pada era setelah album fenomenal Semut Hitam meledak. Lagu-lagu seperti “Semut Hitam”, “Rumah Kita”, dan “Kehidupan” adalah himne rock Indonesia yang ritmenya dijaga dengan setia oleh Yaya di berbagai panggung konser.

Tak hanya di God Bless, kontribusi monumental Yaya juga tercatat tinta emas saat ia menjadi tulang punggung ritme bagi Gong 2000. Bersama Achmad Albar, Ian Antono, dan Donny Fattah, Yaya melahirkan hits seperti “Bara Timur” dan “Kepala Dua”. Lagu “Panggung Sandiwara” juga menjadi salah satu repertoar yang sering kali dibawakan dengan megah oleh formasi God Bless di mana Yaya berada di balik set drumnya.

Warisan dan Regenerasi

Yaya Moektio telah meninggalkan warisan yang tak ternilai. Darah seninya mengalir deras kepada putranya, Rama Moektio, yang juga mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang drummer profesional. Ini adalah bukti regenerasi alami bahwa dedikasi Yaya terhadap musik tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Selamat jalan, Mas Yaya. Pukulan drum-mu mungkin telah berhenti, namun gaungnya akan terus terdengar di setiap panggung rock Indonesia. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

ET Hadi Saputra – Jakarta

Latest articles

ULTAH KE-12: “Kembali ke UUD 1945, Untuk Disempurnakan Dengan Adendum”.

Perjalanan dari BSD hingga Aula Telur KPAD Jatinegara.Perspektif E T Hadi Saputra. Keterlibatan saya dalam...

Menhan Beradab di Tengah Candu Pasukan Siber

36 tahun setelah saya menapak kampus Jurnalistik Unpad, ada sesuatu yang luar biasa terjadi...

Bedah UU Reforma Agraria: Nomenklatur Baru, Jebakan Kriminalisasi, dan Kosmetika Penaklukan Ruang Hidup

Oleh: Tim Redaksi Tanah Merdeka Jakarta, 22 September 2026 Pal ketuk di Senayan berbunyi nyaring, disusul...

Destry Damayanti Mewarisi ‘Kursi Panas’ Bank Indonesia

Bukan Karpet Merah, Destry Damayanti Mewarisi 'Kursi Panas' Bank Indonesia Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur...

Artikel Seperti Ini

ULTAH KE-12: “Kembali ke UUD 1945, Untuk Disempurnakan Dengan Adendum”.

Perjalanan dari BSD hingga Aula Telur KPAD Jatinegara.Perspektif E T Hadi Saputra. Keterlibatan saya dalam...

Menhan Beradab di Tengah Candu Pasukan Siber

36 tahun setelah saya menapak kampus Jurnalistik Unpad, ada sesuatu yang luar biasa terjadi...

Bedah UU Reforma Agraria: Nomenklatur Baru, Jebakan Kriminalisasi, dan Kosmetika Penaklukan Ruang Hidup

Oleh: Tim Redaksi Tanah Merdeka Jakarta, 22 September 2026 Pal ketuk di Senayan berbunyi nyaring, disusul...