DEPOK, 22 Mei 2026 – Pendiri RIMBA (Relawan Indonesia Pembela Alam), Letnan Jenderal TNI Dr. Mohamad Hasan, S.H., M.H., menegaskan pentingnya pemulihan kawasan hulu (upstream) sebagai kunci utama mengatasi krisis ekologis sungai. Pernyataan ini disampaikannya di tengah lingkaran diskusi hangat yang dihadiri oleh puluhan pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi non-pemerintah (NGO), serta barisan akademisi lintas disiplin dalam Diskusi Jumatan bertajuk “Ketika Sungai Sekarat, Mengapa Ikan Sapu-Sapu yang Diadili?” di Serambi Disertasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI).
Acara yang dipandu oleh duet host Nanang Asfarinal (Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia/JKPI) dan E. T. Hadi Saputra (Pakar Konstitusi) ini menjadi panggung bersatunya keprihatinan kolektif atas hancurnya ekosistem air perkotaan akibat dosa struktural manusia.
Aksi Nyata di Titik Nol Ciliwung
Letjen TNI Mohamad Hasan, yang juga alumnus program doktor hukum Universitas Syiah Kuala, membagikan kisah perjuangan taktisnya dalam memulihkan “titik nol” aliran Ciliwung di Telaga Saat, Puncak, Bogor. Pada awal gerakan, telaga purba yang krusial bagi pengendalian banjir Jakarta ini berada dalam kondisi sekarat—tertutup sedimentasi dan okupasi lahan hingga mencapai 80 %.
“Krisis ekologis di hilir tidak akan pernah selesai jika kita terus abai pada kerusakan di hulu. Melalui pendekatan teritorial dan swadaya bersama sekitar 1.500 relawan, kami menginisiasi gerakan adat dan ekologi ‘Ngalokat Sirah Cai Ciliwung’. Hari ini, telaga tersebut tidak hanya mampu menampung 5.000.000 kubik air jernih, tetapi juga hidup kembali sebagai kawasan desa wisata lestari yang mandiri secara ekonomi,” papar Letjen TNI Mohamad Hasan, disambut apresiasi hangat dari seluruh audiens.
Beliau menambahkan bahwa bencana banjir hilir dipicu oleh hilangnya sekitar 150 situ dan telaga di wilayah Bogor akibat tekanan pembangunan perumahan dan pemukiman, bukan akibat kehadiran ikan sapu-sapu (Loricariidae).
Kolaborasi Lintas Sektor: Militer, Akademisi, dan Akar Rumput
Paparan Letjen TNI Mohamad Hasan mendapat respons taktis dan dukungan ilmiah dari berbagai elemen yang hadir. Ahli spasial Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) UI, Bambang M. Djaja, menawarkan sinergi akademis berupa penyusunan data spasial terintegrasi untuk mendukung aksi pemulihan DAS secara ilmiah.
Dari sisi kebijakan publik, Ketua Umum IATPI, Endra Saleh Atmawidjaja, menyepakati bahwa keterlibatan aksi nyata teritorial militer seperti yang diinisiasi Letjen Mohamad Hasan sangat diperlukan untuk memotong birokrasi yang lamban. Endra menyoroti potret buram sanitasi nasional, di mana hanya 10 % layanan limbah domestik yang tergolong aman, dan 18 % masyarakat di sepanjang bantaran masih mempraktikkan Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Suara dari akar rumput juga menggema kuat melalui Abd Kodir (Komunitas Ciliwung Condet) dan Irwan Syafari (Sahabat Ciliwung). Mereka bersaksi bahwa sisa populasi ikan endemik di Ciliwung kini tinggal 8 %. Kehadiran aktivis senior seperti Rasanto Adi (Geografi UI) dan budayawan Dedi Navis memperkuat desakan agar pemerintah segera menghentikan proyek betonisasi kaku dan beralih ke rekayasa hayati (bioengineering), salah satunya melalui konsep hilirisasi bambu (Bambusa) di riparian sungai yang didorong oleh Komara Djaja (Urban Studies UI).
Penegasan Hukum dan Pertobatan Ekologis
Pakar konstitusi, E. T. Hadi Saputra, menegaskan bahwa apa yang dilakukan Letjen Mohamad Hasan dan para relawan di hulu merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan Etika Konstitusi Pasal 33 UUD 1945, di mana sumber daya air harus dikuasai negara untuk kemakmuran bersama yang berkeadilan, bukan dikorbankan demi memburu keuntungan komersial (cuan) jangka pendek. Hal ini ditimpali secara jenaka namun menohok oleh Nanang Asfarinal:
“Tatkala hukum negara masih tertidur lelap menyusun dokumen anggaran, kearifan adat lokal di hulu sudah bergerak memulihkan hak alam. Negara sejatinya berutang budi pada keteguhan nurani seperti ini!”
Diskusi yang berlangsung hingga malam tersebut ditutup oleh refleksi mendalam dari Guru Besar FIB UI, Prof. Manneke Budiman, Ph.D. Beliau menyerukan pentingnya “Pertobatan Ekologis” yang mengintegrasikan tiga pilar utama: pembentukan kebiasaan mandiri (habitus), penguatan inisiatif kolaboratif lintas sektor tanpa sekat birokrasi, serta membangun kemandirian komunitas lokal di sepanjang bantaran sungai.
Acara ini turut dihadiri oleh puluhan tokoh penting, di antaranya CEO Mustika Ratu Kus Wisnu Wardani, advokat senior Julia, fotografer kawakan Guntje (Tempo.co), perwakilan mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar, serta puluhan pimpinan LSM lingkungan yang berkomitmen menyatukan langkah demi terwujudnya fajar baru ekologi Nusantara yang gemilang.
Penulis: Tim Forum Serambi Disertasi FIB UI
Kontak Media: Halaman Pendaftaran & Informasi
Lokasi Diskusi: Peta Serambi Disertasi UI