BerandaDAULAT & HUKUMAgraria & LingkunganMenjaga Hulu Ciliwung: Di Atas Land Rover Haji Anas Boogie, Mengantar Airboat...

Menjaga Hulu Ciliwung: Di Atas Land Rover Haji Anas Boogie, Mengantar Airboat Kolonel Putu Danny Menuju Telaga Saat

Published on

Oleh: E T Hadi Saputra

PUNCAK, BOGOR (24 Februari 2018) — Deru mesin Land Rover klasik ini terasa berat namun bertenaga, membelah kabut tipis yang mulai turun menyelimuti hamparan kebun teh di kawasan Puncak, Cisarua. Jip legendaris ini merupakan salah satu koleksi berharga milik sahabat saya, Haji Anas Boogie. Pagi ini, tepat pada 24 Februari 2018, jip tangguh tersebut mengemban misi penting: menarik sebuah airboat (perahu motor baling-baling angin) yang kokoh menuju satu titik krusial bagi ekologi Jakarta-Jawa Barat, Telaga Saat.

Di balik kemudi, duduk seorang rekan dari komunitas Land Rover. Tangannya begitu cekatan mengendalikan setir, menaklukkan jalur Puncak yang menanjak dan berliku. Selain piawai menjinakkan medan off-road, ia adalah sosok yang sehari-hari sibuk mengelola wisata terbang paralayang di Gunung Mas. Dari kokpit Land Rover ini, ia membawa kami bernavigasi menyusuri jalanan tanah dan berbatu menuju hulu.

Airboat yang kami tarik di belakang adalah armada khusus yang dikirim langsung dari kediaman Kolonel Putu Danny. Beliau adalah sosok perwira TNI yang tidak hanya dikenal tegas, tetapi juga menaruh perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap kelestarian lingkungan. Perahu motor ini dikirimkan untuk menyokong gerakan besar yang sedang bergulir di hulu Ciliwung.

Misi kami hari ini jelas: mendukung penuh gerakan revitalisasi dan penyelamatan titik nol Sungai Ciliwung yang fondasi aksinya sedang digerakkan secara masif oleh Komandan Korem (Danrem) 061/Suryakancana, Kolonel Inf Mohamad Hasan.

Menjawab Kondisi Kritis Titik Nol Ciliwung

Sambil memandangi lanskap Puncak yang berangsur basah oleh gerimis, saya teringat betapa memprihatinkannya kondisi Telaga Saat sebelum gerakan ini dimulai. Tempat yang menjadi hulu utama bagi jutaan warga di hilir ini nyaris mati. Enam hektare wilayahnya berubah menjadi daratan akibat sedimentasi longsor dan invasi eceng gondok yang menutup permukaan air. Kapasitas tampungnya menyusut drastis dari 5 juta liter menjadi hanya tersisa sekitar 100 ribu liter air. Puncak bersolek dengan wisatanya, namun hulunya sekarat dikepung gulma.

Melihat ancaman ekologis tersebut, Kolonel Mohamad Hasan bergerak cepat melalui fungsi pembinaan teritorial TNI. Beliau menolak membiarkan telaga purba ini hancur. Ribuan personel gabungan dari TNI, Polri, Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, organisasi pencinta alam, hingga warga sekitar digerakkan untuk turun ke lumpur mengeruk sedimentasi dan membersihkan gulma.

Namun yang paling krusial di mata saya adalah ketegasan Kolonel M. Hasan dalam menghalau segala bentuk swastanisasi atau komersialisasi sepihak atas kawasan Telaga Saat. Bersama Forkopimda, beliau mengunci komitmen agar telaga ini dikelola secara kolaboratif bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Komitmen beliau sangat jelas: mengembalikan aset alam ini untuk rakyat dan menjaga ekosistem agar Jakarta tidak tenggelam setiap kali musim penghujan tiba.

Gotong Royong Lintas Elemen

Dukungan airboat dari Kolonel Putu Danny hari ini menjadi bukti nyata bagaimana sinergi dan komunikasi yang baik mampu menggerakkan banyak pihak. Di atas Land Rover milik Haji Anas Boogie dan dikemudikan oleh sang pegiat paralayang Gunung Mas, perahu motor ini bergerak mantap menuju air Telaga Saat.

Kehadiran airboat ini akan menjadi instrumen penting di lapangan. Dengan baling-baling anginnya, perahu ini mampu bermanuver di perairan dangkal atau wilayah yang dipenuhi sisa-sisa gulma tanpa khawatir baling-balingnya tersangkut. Alat ini akan sangat membantu para relawan dan petugas menyisir telaga, memantau sedimentasi, serta mempercepat proses normalisasi hulu secara berkala.

Melihat kolaborasi alat, kendaraan koleksi, dan semangat dari berbagai elemen komunitas ini, saya menyadari satu hal. Apa yang diinisiasi oleh Danrem 061/Suryakancana Kolonel M. Hasan telah menyalakan kembali api gotong royong yang sesungguhnya. Beliau berhasil menyatukan berbagai kepala dan elemen masyarakat demi satu tujuan: menyelamatkan alam.

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Land Rover akhirnya berhenti tepat di bibir Telaga Saat. Di depan mata kami, air telaga yang mulai dikeruk bertahap tampak tenang, memantulkan hijau rimbunnya vegetasi Gunung Gede Pangrango. Tempat yang beberapa waktu lalu masih berupa semak belukar kering, kini perlahan kembali menjadi telaga eksotis penopang kehidupan.

Saat airboat diturunkan perlahan ke permukaan air, kalimat ikonik yang selalu digaungkan Kolonel M. Hasan dalam gerakan ini kembali terngiang di telinga saya: “Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita.”

Hari ini, 24 Februari 2018, dari balik roda kemudi Land Rover tua, parasut paralayang yang kerap menghiasi langit Gunung Mas, dan dukungan perahu dari Kolonel Putu Danny, saya menyaksikan sebuah kerja nyata. Merawat Indonesia bukanlah tugas satu instansi saja, melainkan estafet kepedulian yang harus kita kayuh bersama-sama selagi sempat.

Latest articles

Musuh Dalam Selimut: Joget Gemoy Hokage vs Akatsuki

Masyarakat Konoha kini bisa membubarkan diri dari kepanikan massal dan menghemat anggaran militer desa....

NASIB KAWULA: Dari Sawah Majapahit hingga Aspal Ojol

Sejarah sering kali hanya berganti rupa, namun menyisakan kepedihan yang sama bagi rakyat kecil....

Sinergi Keluarga, Aviasi Militer, dan Bisnis “Tepung Energi”: Komedi Putar Penegak Kedaulatan Kita

Mari angkat topi setinggi-tingginya untuk Mayor Laut (P) Faisal Mulia, eks Kasiopslat Wing Udara...

KOMPAS RUSAK DI KABIN KEKUASAAN: Paradoks Negara dan Ancaman Autopilot

Oleh: ET Hadi Saputra Pemerintah hari ini kerap menggaungkan mantra luhur tentang kebijakan publik berbasis...

Artikel Seperti Ini

Musuh Dalam Selimut: Joget Gemoy Hokage vs Akatsuki

Masyarakat Konoha kini bisa membubarkan diri dari kepanikan massal dan menghemat anggaran militer desa....

NASIB KAWULA: Dari Sawah Majapahit hingga Aspal Ojol

Sejarah sering kali hanya berganti rupa, namun menyisakan kepedihan yang sama bagi rakyat kecil....

Sinergi Keluarga, Aviasi Militer, dan Bisnis “Tepung Energi”: Komedi Putar Penegak Kedaulatan Kita

Mari angkat topi setinggi-tingginya untuk Mayor Laut (P) Faisal Mulia, eks Kasiopslat Wing Udara...