Red Soldadu Riverside

Published on

Matahari tepat berada di puncaknya ketika saya tiba di kawasan Cijantung, melipir ke Jalan Sederhana menuju Red Soldadu Riverside. Jarum jam menunjuk tepat ke angka dua belas saat roda kendaraan berhenti sempurna. Begitu pintu mobil terbuka, hawa hangat Jakarta menyambut, disusul lambaian tangan Mas Rizky yang sudah siaga di area parkir.

Baru saja kaki menjejak tanah dan saya sempat menghela napas melepas penat perjalanan, langkah tegap seseorang mendekat. Sosok pemuda berwajah renyah dan bersih itu langsung mengambil sikap hormat sebelum mengulurkan tangan menyalami saya.

“Izin, Prof. Saya diperintah Letjen Hasan,” ucapnya lantang dan santun.

Dari perkenalan singkat yang hangat itu, saya mengenalnya sebagai Mayor Infanteri Yusup Tahiri, perwira lulusan Akmil 2012. Obrolan ringan segera mencairkan suasana saat ia menuturkan baru saja merampungkan pendidikan Sesko bersama seniornya, Letkol Teddy Indra Wijaya. Disiplin khas korps baret merah berpadu apik dengan kerendahan hati, membuat langkah awal di tempat ini terasa sangat akrab. Tak lama setelah menyambut dan mengantar saya duduk, Yusup sempat berpamitan dengan santun untuk menunaikan salat terlebih dahulu.

Sekitar pukul satu siang, Letjen TNI Dr. Mohamad Hasan SH, MH, tiba. Pertemuan yang diawali jabat erat itu seketika meluruhkan sekat formalitas, membuka ruang perbincangan panjang hingga senja berlabuh di pukul lima sore. Cangkir kopi pertama yang dihidangkan Saras menjadi pembuka yang pas, sebelum kemudian silih berganti dengan kesegaran leci tea saat hari merambat teduh.

Red Soldadu Riverside meramu konsep ruang yang menyatu dengan bantarannya. Struktur bangunannya semi-terbuka tiga tingkat, berdiri kokoh mengandalkan kerangka ekspos yang membiarkan angin sungai leluasa bertiup dari lantai dasar hingga dek paling atas. Pilihan menunya bervariasi dengan harga yang sangat masuk akal; ada pisang goreng original yang legit, deretan platters gurih ala Western, hingga aneka racikan kopi. Di sini, ada kemewahan senyap yang langka, terasa terlempar jauh dari bising dan hiruk pikuk kafe metropolitan DKI pada umumnya.

Dari balkon terbuka, pemandangan tertumbuk pada jembatan gantung yang membentang melintasi sungai, memajang tulisan raksasa: “Save Ciliwung”. Tepat di bawah seruan ekologis itu, pemandangan kontras tersaji. Seorang bapak tua tampak gigih menentang arus keruh sungai menghela rakit batang pisang lengkap dengan karung diatasnya. Sosoknya bergerak lambat melawan arus, entah mencari apa—mungkin botol plastik, ranting lapuk, atau sekadar mencari sisa-sisa harkat, martabat, dan nama baik pemimpin yang sudah lama hanyut di Ciliwung.

Dengan latar belakang keilmuan yang sama diskursus ketatanegaraan dan dinamika konstitusi segera  mengalir menyelinap baikan arus Ciliwung, terlihat pelan tapi mendalam. Kami membedah pasal dan tafsir arah hukum bangsa, diselingi tawa saat menyinggung persilangan nasib; kami sama-sama pernah “dibuang” untuk bersekolah di kampung halaman masa  SMA. Obrolan kembali berputar hangat mengenang kawan-kawan lama, memanggil kembali memori yang tertinggal di Cijantung, hingga watak Ciliwung yang kerap tak tertebak—kadang surut menampakkan dasar, adakalanya meluap liar hingga dulu kami harus ikut “panen” sampah dan riuhnya ikan sapu-sapu.

Empat jam berlalu tanpa terasa. Ketika matahari sore mulai condong ke barat dan obrolan tepi sungai itu harus disudahi, kami berdiri saling menepuk pundak dengan tawa yang masih tersisa. Pertemuan ditutup dengan jabat erat perpisahan yang hangat, sementara buku karya saya kini terselip mantap di ketiak masing-masing, siap menemani perjalanan menuju pemberhentian selanjutnya..

Latest articles

ULTAH KE-12: “Kembali ke UUD 1945, Untuk Disempurnakan Dengan Adendum”.

Perjalanan dari BSD hingga Aula Telur KPAD Jatinegara.Perspektif E T Hadi Saputra. Keterlibatan saya dalam...

Menhan Beradab di Tengah Candu Pasukan Siber

36 tahun setelah saya menapak kampus Jurnalistik Unpad, ada sesuatu yang luar biasa terjadi...

Bedah UU Reforma Agraria: Nomenklatur Baru, Jebakan Kriminalisasi, dan Kosmetika Penaklukan Ruang Hidup

Oleh: Tim Redaksi Tanah Merdeka Jakarta, 22 September 2026 Pal ketuk di Senayan berbunyi nyaring, disusul...

Destry Damayanti Mewarisi ‘Kursi Panas’ Bank Indonesia

Bukan Karpet Merah, Destry Damayanti Mewarisi 'Kursi Panas' Bank Indonesia Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur...

Artikel Seperti Ini

ULTAH KE-12: “Kembali ke UUD 1945, Untuk Disempurnakan Dengan Adendum”.

Perjalanan dari BSD hingga Aula Telur KPAD Jatinegara.Perspektif E T Hadi Saputra. Keterlibatan saya dalam...

Menhan Beradab di Tengah Candu Pasukan Siber

36 tahun setelah saya menapak kampus Jurnalistik Unpad, ada sesuatu yang luar biasa terjadi...

Bedah UU Reforma Agraria: Nomenklatur Baru, Jebakan Kriminalisasi, dan Kosmetika Penaklukan Ruang Hidup

Oleh: Tim Redaksi Tanah Merdeka Jakarta, 22 September 2026 Pal ketuk di Senayan berbunyi nyaring, disusul...