Oleh: E.T. Hadi Saputra
Dalam doktrin tata negara klasik, sebuah republik (res publica) selalu dibayangkan sebagai bangunan agung yang tegak di atas konsensus luhur: kedaulatan di tangan rakyat, diampu oleh hukum yang adil, serta dijalankan oleh kekuasaan yang tahu batas etisnya. Namun, teori-teori tebal di rak perpustakaan kerap kali tumpul ketika dihadapkan pada realitas empiris di lapangan.
Maka, ketika saya melangkah masuk ke atrium Mall Bellevue Cinere—persis dipelataran depan ruang pamer Sancaya Art Space— langsung terlihat rangkaian pameran bertajuk Surat Cinta untuk Negeri (28 Agustus – 17 September 2026), ada kontras visual yang menampar nalar kebangsaan kita.
Sabtu siang, 12 September 2026, ruang pamer itu meledak lewat helatan Kegaduhan Estetis. Diskusi publik yang dimoderatori Bambang Asrini, benturan Wayang Urban Kontemporer Tamara Melania, bebunyian eksperimental Raditya Lakadewa, tabuhan ritmis Enjamudin Jox dan Bagus Thile, serta tiupan purba Jivan TP di bawah orkestrasi Edi Bonetski, memaksa publik berhenti sejenak dari rutinitas konsumtif.
Namun, potret paradoks paling telak justru saya temui selepas magrib. Area parkir masih sarat sesak. Dari eskalator bioskop lantai atas, seratusan aparat polwan yang baru saja usai menghadiri nonton bareng turun beriringan. Barisan berseragam itu melintas tegap melintasi pelataran pameran menuju deretan bus penjemput di luar, tanpa menoleh, tanpa menghampiri. Mereka berjalan berjarak dari instalasi yang sedang menggugat watak kekuasaan di sampingnya.
Di sana, di antara barisan aparat yang melenggang tertib dan etalase marmer yang gemerlap, teronggok susunan masif berjudul (ini:) Genting, Bung! karya Edi Bonetski bersama duet perancang spasial Tegar Abieza dan Dicky Adhito (Ruangan ASA).
Bagi saya, instalasi ini bukan sekadar karya rupa tiga dimensi. Ia adalah nota pembelaan (pleidooi), sekaligus eksepsi materiel atas pembangkangan konstitusi yang kian dinormalisasi di negeri ini.
1. Dialektika Bronjong dan Genteng: Retaknya Kontrak Sosial
Kekuatan purba karya ini bertumpu pada kejelian metafora materialnya. Alas instalasi itu dihamparkan dengan 1.200 keping genteng tanah liat bekas yang berantakan, terhimpit, dan retak di bawah beban.
Dalam kacamata sosiologi hukum, genteng adalah volksgeist—jiwa rakyat jelata. Ia adalah artefak paling intim dari atap rumah-rumah kaum papa, pelindung dari marabahaya cuaca yang dirajut dari lumpur dan dibakar dengan keringat. Di atas hamparan genteng rapuh itu, ditumpuk sebongkah massa raksasa: batu-batu kali cadas yang dikurung paksa oleh anyaman kawat bronjong besi, dipayungi struktur kisi baja miring yang menjulang angkuh.
Kontras mekanis ini melukiskan watak kekuasaan negara yang mengalami patologi akut. Dalam mandat Pasal 1 ayat (2) UUD 1945, kekuasaan semestinya bersumber dari dan mengabdi kepada daulat rakyat. Namun yang tergelar di sini adalah kebalikannya: sebuah struktur kekuasaan yang bebal, berat, dingin, dan dikunci rapat oleh regulasi kawat yang opresif. Kuasa itu bukan melindungi, melainkan menindih pondasi penyangganya sendiri.
Kata genteng berkelindan menjadi paronim yang telak: genting. Ketika fondasi rakyat sudah remuk diinjak oleh keangkuhan elite yang kian tambun, struktur negara itu kehilangan titik gravitasi moralnya. Ia miring, limbung, dan secara tektonik berada di ambang keruntuhan.
2. Sembilan Kursi Ekstra-Parlementer dan Lubang Hitam Kedaulatan
Di hadapan bentangan massa yang doyong itu, para perupa meletakkan sembilan kursi kecil berjarak. Setiap sarjana hukum tata negara tentu segera tergelitik oleh angka sembilan: apakah ini representasi majelis hakim penjaga konstitusi, dewan perumus regulasi, atau barangkali mitos oligarki politik bayangan?
Menariknya, sembilan kursi ini ditempatkan di luar struktur utama. Di sinilah letak gugatan spasial yang paling radikal. Penempatan ini seakan menggugat: di manakah sebenarnya pusat kedaulatan negara bermukim hari ini? Apakah gedung parlemen, kementerian, dan mahkamah-mahkamah agung sekadar panggung sandiwara prosedural, sementara keputusan-keputusan strategis atas hajat hidup orang banyak justru didikte oleh anasir di luar arena resmi?
Kecurigaan itu dipertegas oleh lubang lingkaran raksasa yang menembus rangka kisi-kisi besi di bagian atas. Dari kejauhan, lingkaran ini menyaru bagai matahari terbenam. Tetapi bila ditatap lurus, ia adalah sebuah kehampaan (the void). Alih-alih menyinari tatanan di bawahnya, ia berdiri sebagai ketiadaan: lubang hitam tempat janji-janji konstitusi pasal kesejahteraan sosial lenyap ditelan pragmatisme kekuasaan.
3. Pleidooi yang Menghakimi Penonton
Karya ini kian menemukan roh perlawanannya ketika ia berhenti menjadi artefak yang steril. Pada plakat penjelasannya, kita menyaksikan bekas invasi tangan-tangan publik: tulisan spontan “gua pengen kaya!”, “sukses”, dan satire getir “semoga sportif :p”.
Vandalisme jalanan ini justru melengkapi dokumen hukum karya tersebut. Di tengah etalase toko-toko berpendingin udara, karya ini beralih fungsi dari sekadar barang pajangan menjadi ruang interaktif yang mendakwa kesadaran pengamatnya secara telanjang. Tulisan-tulisan itu adalah suara warganegara yang lelah: sebuah kombinasi tragis antara kecemasan ekonomi bertahan hidup dan sinisme terhadap integritas kepemimpinan nasional. Dokumen kurasi yang semula berjarak kini dihakimi balik oleh suara realitas yang telantar. Pemandangan aparat berseragam yang melenggang acuh di samping karya ini selepas magrib tadi kian menegaskan sekat tebal itu: negara kerap berjalan dalam barisannya sendiri, abai pada rintihan fondasi yang menopangnya.
4. Catatan Kritis: Jangan Biarkan Teks Mendikte Tafsir
Meski demikian, sebagai sebuah karya yang berambisi melontarkan kritik struktural, instalasi ini bukan tanpa celah. Ada catatan kritis yang patut diajukan mengenai risiko ketergantungan pada teks verbal.
Dalam catatan kuratorialnya, sang perupa menjabarkan secara terlampau terperinci makna bentukan diagonal padat yang menembus massa sebagai lambang “sosok penopang yang meluruskan pemegang kuasa”. Pendekatan semacam ini menggeser karya ke arah verbalisme yang agak ilustratif dan terjebak dalam romantisme mesianik: seolah-olah kebuntuan institusional republik ini cukup diselesaikan oleh hadirnya sosok juru selamat tunggal.
Padahal, kekuatan sejati instalasi ini justru memancar saat ia dibiarkan telanjang tanpa narasi penuntun. Derit besi, bau tengik cat minyak, dan debu genteng pecah di lantai marmer mal sudah jauh lebih fasih mendedahkan borok kekuasaan ketimbang kalimat-kalimat manis di atas kertas. Penopang diagonal itu bekerja jauh lebih bernas bila dibaca secara fisis-mekanis: sebuah daya lawan rakyat yang tersisa untuk menahan agar atap republik ini tidak keburu ambruk menimpa kepala kita semua.
Penutup: Sinyal Darurat Sebuah Republik
Pada akhirnya, (ini:) Genting, Bung! bukanlah tembang pujangga yang meromantisasi ibu pertiwi dengan kiasan adiwarna yang meninabobokan. Karya ini adalah peringatan dini konstitusional.
Ketika keadilan substantif digantikan oleh transaksi kekuasaan, dan ketika beban rakyat di lapis terbawah terus dilipatgandakan demi menopang kenyamanan segelintir elite di puncak piramida, maka stabilitas yang dipamerkan negara sesungguhnya hanyalah kepalsuan. Di lantai Mall Bellevue Cinere, alarm itu telah dibunyikan dengan sangat lantang. Jika kita masih bersikap abai dan menganggap republik ini baik-baik saja, maka kita sedang berjalan dengan sadar menuju keruntuhan bersama. Dan bila saat itu tiba, situasinya benar-benar genting, Bung!
Edi Bonetski, Tegar Abieza, Dicky Adhito
(ini:) Genting, Bung?
2026
1200 genteng bekas, besi, & cat minyak
Untuk negara yang mulai tergerogoti, dan mungkin mulai kehilangan keseimbangan.
Lihatlah struktur tunggal dari besi yang besar ini, yang dengan gagah menyebut dirinya sebagai suatu negara. Di dalamnya, terlihat garis yang memisahkan bebatuan dan genteng. Menggambarkan dua kelompok antara mereka yang memegang kekuasaan, dan mereka yang menopang negeri ini.
Batu-batu besar dikunci oleh kawat, membentuk massa yang berat, keras kepala, dan tidak tergoyahkan. Mereka adalah sebuah sistem yang berdiri dengan kuasa di atas negeri ini. Segelintirnya berjarak tanpa benar-benar menyentuh kumpulan puing di bawahnya yang menggambarkan kita semua: rakyat. Genteng yang kerap dijumpai sehari-hari juga sekaligus menjadi paronim dengan “genting”: keadaan yang mendesak dan membutuhkan perhatian.
Keduanya menggambarkan ironi di saat kekuasaan yang seharusnya menjadi penopang, justru menjadi sesuatu yang menggoyahkan keseimbangan negara hingga nyaris tenggelam. Genting bertumpukan, berdesak-desakan, sementara kekuasaan melenggang bebas dengan lapang di dalam wadah yang sama. Kontras antara penguasa dan rakyat seperti cakrawala yang membelah laut dan langit, yang hidup berdampingan namun tidak pernah bersentuhan. Di antara keduanya muncul lingkaran bagai matahari senja. Namun bukannya menerangi, ia muncul sebagai lubang yang menggambarkan kekosongan akan janji-janji, tuntutan, kehadiran yang seharusnya ada namun belum terpenuhi.
Genteng-genteng yang tertekan terus-menerus bersatu bersuara menuntut kebutuhan, kesetaraan, keadilan yang seharusnya didapatkan. Hadirlah puspa bangsa, melati sebagai lambang suara-suara yang berdentang. Harapan warga yang bersatu agar tercium mencapai “hidung-hidung” yang di atasnya. Harapan yang membawa kita kepada lagu Melati Suci, gambaran ideal akan negara suci dan luhur yang seharusnya hadir, walaupun harus tumbuh di antara kawat dan bebatuan.
Di hadapan massa tersebut, sembilan kursi hadir menggambarkan kedudukan. Mengingatkan pada kursi-kursi yang biasa diduduki dengan jabatan untuk menentukan arah suatu negeri. Namun posisinya yang berada di luar struktur memunculkan pertanyaan baru: Di manakah sebetulnya kekuasaan berada? Apakah negeri ini hanya panggung pertunjukan bagi mereka di luar sana?
Kemudian muncul sebuah entitas padat di bawah struktur. Menjadi harapan akan sosok yang dengan kekokohannya mampu mengemban dan menopang negara dengan baik. Ia menembus struktur besar tadi secara diagonal, yang berbaur dengan rakyat, “meluruskan” para pemegang kuasa, serta mencegah negara dari tenggelam. Negara ini sudah memiliki itu, bukan? Bila tidak, ini benar-benar genting, Bung!
Melalui surat ini, kami bukan pujangga cinta yang hanya memuji tanah air dengan adiwarnanya. Nyatanya, cinta juga dapat berarti keberanian untuk melihat, mengingat, dan menyampaikan kritik terhadap apa yang terjadi di dalamnya.
Dengan sepenuh hati,
Ruangan ASA x Edi Bonetski